Foto : Mbah Sugiman di dampungi Syafaat
BANYUWANGI – Usia senja tak pernah menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Hal itu dibuktikan Ahmad Sugiman atau yang akrab disapa Mbah Sugiman. Di usianya yang telah menginjak 95 tahun, warga Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi, ini masih setia mengayuh sepeda pancalnya untuk menjajakan buah-buahan demi menghidupi dirinya.
Setiap Minggu pagi, Mbah Sugiman menjadi salah satu pedagang yang selalu hadir di Banyuwangi Creative Market (BCM) yang digelar di Taman Blambangan. Di luar hari pasar, ia tetap berkeliling menawarkan buah dagangannya ke berbagai tempat dengan mengandalkan sepeda tua yang telah menemaninya bertahun-tahun.
Selama sekitar 15 tahun terakhir, Mbah Sugiman menjalani hidup seorang diri setelah sang istri meninggal dunia. Meski demikian, cobaan hidup tak pernah memadamkan semangatnya untuk terus bekerja dan hidup mandiri.
Dari hasil berjualan di Banyuwangi Creative Market, Mbah Sugiman bahkan masih mampu menyisihkan sekitar Rp200 ribu setiap pekan untuk ditabung melalui layanan perbankan yang bekerja sama dengan para pelaku UMKM di kawasan tersebut.
Di balik ketangguhannya, tersimpan filosofi hidup yang sederhana namun sarat makna. Saat ditanya rahasia tetap sehat dan kuat di usia 95 tahun, jawabannya begitu menyejukkan.
“Yang penting apa pun disyukuri. Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya sambil tersenyum.
Mbah Sugiman juga berharap pemerintah terus memberikan perhatian kepada para pedagang Banyuwangi Creative Market agar mereka dapat berdagang dengan aman, nyaman, dan memiliki ruang yang terus mendukung keberlangsungan usaha mereka.
Tak hanya dikenal sebagai pedagang yang gigih, Mbah Sugiman juga menjadi sosok yang dihormati di lingkungan BCM. Semangat kebersamaan di antara para pedagang terlihat ketika usai berjualan. Rekan-rekannya dengan sukarela membantu mengangkat barang dagangannya hingga siap dibawa pulang.
Koordinator Pedagang Banyuwangi Creative Market, Rachmad, menyebut Mbah Sugiman sebagai sosok inspiratif yang menjadi teladan bagi banyak orang.
“Beliau adalah pedagang yang luar biasa. Semangatnya tidak pernah padam. Dengan sepeda pancalnya yang penuh muatan buah, beliau masih mampu mengayuh sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Itu menjadi inspirasi bagi kami semua,” ungkap Rachmad.
Mbah Ahmad Sugiman menjadi bukti bahwa usia hanyalah angka. Selama semangat untuk berkarya tetap menyala dan rasa syukur terus tertanam dalam hati, tidak ada batas untuk tetap produktif. Dari kayuhan sepeda tuanya, Mbah Sugiman mengajarkan arti kerja keras, kemandirian, dan keteguhan hati—sebuah pelajaran hidup yang layak menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda yang tengah berjuang meraih masa depan. (syaf)
