Actanews.id – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi menghadirkan suasana berbeda dalam kegiatan pembinaan warga binaan pada Sabtu (09/05). Bertempat di Gedung Seni Budaya (Gesibu), kegiatan pembinaan musik akustik berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat semangat kebersamaan.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi, Solichin, tampak membaur langsung bersama para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Tidak hanya menyaksikan penampilan musik, Solichin juga turut bernyanyi bersama warga binaan, menciptakan suasana akrab yang disambut antusias oleh seluruh peserta kegiatan.
Petikan gitar akustik, irama cajon, dan lantunan lagu bernuansa kebersamaan membuat Gedung Gesibu dipenuhi semangat positif. Tepuk tangan dan sorakan penuh semangat dari warga binaan mengiringi setiap lagu yang dibawakan, termasuk saat Kalapas tampil menyumbangkan suara di tengah suasana penuh kehangatan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian dan pengembangan bakat yang rutin dilakukan di Lapas Banyuwangi. Melalui pendekatan humanis, pihak lapas berupaya menciptakan hubungan harmonis antara petugas dan warga binaan guna mendukung proses pemasyarakatan yang lebih efektif.
Dalam sambutannya, Solichin menegaskan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga pengembangan potensi diri warga binaan.
“Pembinaan di lapas tidak hanya fokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga pengembangan bakat dan potensi diri warga binaan. Musik menjadi salah satu media positif untuk menyalurkan kreativitas, membangun semangat, dan menjaga kesehatan mental,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan musik akustik diharapkan mampu menjadi sarana positif bagi warga binaan untuk mengekspresikan diri, mengurangi kejenuhan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri selama menjalani masa pembinaan.
Sejumlah warga binaan tampak menunjukkan kemampuan bermusik yang cukup memukau. Ada yang piawai memainkan gitar dan cajon, sementara lainnya tampil percaya diri sebagai vokalis. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi wadah untuk terus mengasah keterampilan seni yang mereka miliki.
Salah seorang warga binaan mengaku senang dan termotivasi dengan adanya kegiatan pembinaan musik tersebut. Menurutnya, suasana kekeluargaan yang tercipta membuat mereka merasa lebih dihargai dan memiliki semangat baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Senang sekali karena kami diberi ruang untuk berkarya dan menyalurkan bakat. Apalagi Kalapas juga ikut bernyanyi bersama kami, suasananya jadi lebih dekat dan penuh kekeluargaan,” ungkapnya.

Selain pembinaan musik, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi juga terus mengembangkan berbagai program pembinaan lain, seperti pelatihan keterampilan kerja, kerajinan tangan, olahraga, dan kegiatan keagamaan sebagai bekal warga binaan setelah bebas nanti.
Melalui program-program tersebut, Lapas Banyuwangi ingin menunjukkan bahwa proses pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani hukuman, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih baik, mandiri, dan produktif saat kembali ke tengah masyarakat.
