BANYUWANGI – MTsN 7 Banyuwangi menggelar Workshop Jurnalistik dan Penyusunan Buku Ber-ISBN untuk memperkuat budaya literasi di lingkungan madrasah. Kegiatan ini menghadirkan tiga perspektif penting, yakni penguatan budaya membaca, keterampilan jurnalistik, serta teknik penulisan dan penerbitan buku, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kepala MTsN 7 Banyuwangi, Sri Endah Zulaikahtul Kharimah, dalam sambutannya menegaskan bahwa budaya literasi tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan membaca teks tertulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami lingkungan, mengenali fenomena alam, dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa di sekitar.
Ia mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca atau *iqra*. Pesan tersebut menjadi landasan bahwa membaca merupakan pintu masuk untuk memperluas pengetahuan dan memahami kehidupan.
Dengan demikian, budaya literasi di madrasah perlu dikembangkan secara lebih luas. Peserta didik tidak hanya dibiasakan membaca buku pelajaran, tetapi juga diajak membaca realitas, mengamati lingkungan, dan menuangkan hasil pengamatannya ke dalam tulisan.
Narasumber berikutnya, H. Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, menyampaikan materi tentang dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, artikel opini, serta berbagai bentuk karya tulis lainnya. Ia juga mendorong para pendidik untuk mulai menyusun buku ajar berdasarkan materi yang selama ini mereka sampaikan kepada peserta didik.
Menurut Syafaat, guru sesungguhnya memiliki modal besar untuk menulis buku karena setiap hari berinteraksi dengan materi pelajaran, menyusun penjelasan, dan menjawab pertanyaan siswa. Pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi naskah buku yang bermanfaat bagi pembelajaran.
“Menulis buku ajar tidak harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Materi yang setiap hari disampaikan kepada siswa bisa dihimpun, ditata, kemudian dikembangkan menjadi buku. Dengan begitu, ketika siswa lupa terhadap materi yang pernah dipelajari, mereka bisa membukanya kembali melalui buku karya gurunya sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan, buku ajar yang ditulis langsung oleh guru memiliki nilai tersendiri karena berangkat dari pengalaman mengajar dan kebutuhan nyata peserta didik. Karya tersebut dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi guru sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa.
Dalam sesi tersebut, Syafaat juga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) dalam proses penulisan. Menurutnya, teknologi AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, mengembangkan gagasan, dan menyusun kerangka tulisan. Namun, penggunaannya harus tetap berada dalam kendali manusia.
Ia mengibaratkan hubungan guru, siswa, dan AI sebagai proses yang menuntut pemahaman serta kemampuan mengarahkan. Seorang guru perlu memiliki gambaran tentang jawaban yang diharapkan ketika memberikan pertanyaan kepada siswa. Demikian pula ketika menggunakan AI, seseorang harus memahami tujuan, menentukan arah, serta mampu menilai hasil yang dihasilkan teknologi tersebut.
“AI merupakan teknologi buatan manusia yang harus dikendalikan oleh manusia. Karena itu, manusia harus memiliki kemampuan untuk mengarahkan, memeriksa, dan memperbaiki hasilnya. Kita perlu memahami apa yang ingin dihasilkan sebelum memberikan instruksi kepada AI,” ujarnya.
Syafaat menegaskan, penggunaan AI tidak boleh menghilangkan tanggung jawab penulis terhadap karyanya. Tulisan tetap membutuhkan pemikiran kritis, pengalaman, ketepatan informasi, dan sentuhan manusia agar memiliki karakter serta dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, Yusuf Khoiri, S.STP., dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, memberikan materi mengenai pengembangan dan penerbitan karya tulis. Ia menjelaskan bahwa naskah yang telah disusun dapat dikembangkan menjadi buku dalam bentuk cetak maupun digital.
Buku digital atau *e-book* menjadi salah satu alternatif untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Melalui layanan perpustakaan daerah, karya tulis dapat menjadi bagian dari sumber literasi yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan layanan yang berlaku.
Materi yang disampaikan juga mencakup aspek teknis penyiapan naskah, seperti tata letak, desain sampul, dan pemformatan buku, serta pengenalan prosedur pengajuan ISBN. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu guru memahami tahapan yang perlu dipersiapkan untuk menerbitkan karya secara lebih terarah.

Workshop ini menjadi ruang pembelajaran bagi para pendidik untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus memperluas pemahaman mengenai ekosistem penerbitan. Mulai dari menemukan gagasan, menyusun naskah, mengolah tulisan menjadi produk jurnalistik, hingga menyiapkannya sebagai buku yang dapat dibaca dan dimanfaatkan orang lain. (*)
