Dinas SDABMBK Kabupaten Pasuruan Rampungkan Pintu Pengendali Banjir Badaran

Foto : Rampung, pembangunan pintu pengendali banjirr di kali Bandaran, Winongan.

Pembangunan bangunan pintu pengatur banjir di Desa Bandaran,  vtt  Winongan, Kabupaten Pasuruan, yang dilaksanakan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Pasuruan, telah rampung 100 persen.

Proyek yang bersumber dari anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2026 Kabupaten Pasuruan tersebut dikerjakan oleh CV Tirta Karya Utama, sen  vt. V vilai Rap.500 juta lebih.

Rampungnya infrastruktur tersebut juga diharapkan mendukung upaya pengurangan risiko genangan maupun banjir di wilayah sekitar, sesuai dengan kondisi hidrologis dan kapasitas bangunan.

Mustofa selaku pelaksana lapangan dari CV TKU menjelaskan bahwa pintu pengendali banjir sudah terselesaikan 100 persen. Sehingha dalam menghadapi musim penghujan yang akan datang sudah berfungsi.

“Alhamdulillah sudahvtv terselesaikan 100 persen pekerjaan pintu pengendali banjir ini, apalagi musim penghujan sudah akan datang dan sudah bisa difungsikan.,” kata Mustofa, Rabu,(28/10).

Dalam pelaksanaannya, Kang Mus, sapaan akrab Mustofa, selama masa pengerjaan relatif berjalan lancar. Dirinya mengaku sedikit mengalami kendala saat penggalian untul pondasi untuk pembangunan struktur pasangan. Selain kedalamannya 3 meter, kontur tanahnya berpasir.

“Karena kontur tanahnya berbeda dari wilayah lain. Tapi alhamdulillah atas kerjasama tim dan pekerja serta alat- alat pendukung pekerjaan, pintu pengendali banjir rampung seratus persen jauh sebelum masa kontrak berakhir,” pungkas Kang Mus.

Sementara itu, Kepala Dinas SDABMBK Kabupaten Pasuruan melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (Kabid SDA), Benzu, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pengendali banjir merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan pengelolaan sumber daya air.

“Pembangunan pintu pengendali banjir ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan pengendalian dan pengaturan aliran air. Dengan bangunan yang telah selesai, diharapkan pengelolaan debit air di kawasan tersebut dapat dilakukan secara lebih terukur, terutama ketika menghadapi peningkatan aliran pada musim hujan,” kata Benzu.

Menurutnya, penyelesaian fisik bangunan perlu diikuti dengan pengoperasian yang sesuai prosedur dan pemeliharaan secara berkelanjutan. Pemeriksaan kondisi pintu, mekanisme penggerak, struktur bangunan, serta saluran air menjadi bagian penting untuk memastikan infrastruktur dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Ia juga menekankan bahwa pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada keberadaan satu bangunan, tetapi membutuhkan pengelolaan sistem tata air secara menyeluruh, termasuk pemeliharaan saluran, pemantauan debit air, dan koordinasi dengan pihak terkait..

Dengan rampungnya pembangunan tersebut, pemerintah daerah berharap pintu pengendali banjir di Desa Bandaran dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pengelolaan sumber daya air dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan debit air saat musim hujan.

Meski demikian, lanjut Benzu, efektivitas bangunan dalam mengurangi risiko banjir tetap bergantung pada kondisi aliran, kapasitas infrastruktur, serta pengoperasian dan pemeliharaan secara rutin.(Tya)