PMI JEMBER – Ratusan siswa lintas jenjang, mulai dari SDLB, SMLLB, hingga SMALB di bawah naungan Yayasan Taman Pendidikan dan Asuhan (TPA) SLB Bagian Tunagrahita (SLB-C TPA) Jember, mengikuti kegiatan Simulasi Tanggap Darurat Bencana, Rabu (15/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Komplek Markas PMI Kabupaten Jember ini bertujuan untuk membekali siswa berkebutuhan khusus dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri ahli dari Markas PMI Kabupaten Jember, yakni Imam Rosidi dan Wachid Budhisantoso. Materi diberikan melalui dua tahapan utama yaitu penyampaian teori yang dilaksanakan di Ruang Merah SLB-C TPA Jember, serta praktik lapangan yang dilakukan di area tengah Markas PMI Jember, Jalan Jawa.
Siswa dan guru SLB-C TPA Jember tampak antusias mengikuti kegiatan simulasi yang dilaksanakan sekitar pukul 09.00 Rabu pagi. Dengan didampingi Imam Rosidi dan Wachid dari markas PMI Kabupaten Jember, Simulasi Gempa Bumi berlangsung seru. Anak anak dan guru sigap menyelamatkan diri di titik kumpul saat terjadi simulasi gempa bumi.
Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, menekankan pentingnya inklusivitas dalam mitigasi bencana. Menurutnya, kelompok disabilitas merupakan salah satu kelompok rentan yang harus mendapatkan atensi khusus dalam prosedur penyelamatan diri.
Praktik Langsung di Lapangan Kepala SLB-C TPA Jember, Tutik Pudjiastutik, menjelaskan bahwa simulasi ini dirancang sesederhana mungkin agar mudah dipahami oleh para siswa. Dalam praktik lapangan, para siswa diajarkan langkah-langkah evakuasi mandiri, cara melindungi kepala saat terjadi gempa, hingga titik kumpul yang aman.
“Kami ingin anak-anak memiliki kemandirian dasar saat terjadi situasi darurat. Pengetahuan ini sangat krusial bagi mereka,” ujar Tutik. Harapan Orang Tua Murid Kegiatan ini disambut positif oleh para wali murid.
Sri Muamanah, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan harapannya agar simulasi seperti ini tidak hanya menjadi agenda sekali jalan, melainkan menjadi kegiatan rutin di sekolah. “Harapannya ini bisa jadi rutinitas. Jadi, jika sewaktu-waktu ada bencana alam, anak-anak sudah memiliki insting atau kesiapan (ISP) dan tidak panik. Mereka jadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri,” tutur Sri Muamanah.
Komitmen Mitigasi Berkelanjutan Dengan adanya simulasi ini, diharapkan SLB-C TPA Jember dapat menjadi satuan pendidikan aman bencana (SPAB) yang mampu melindungi seluruh warga sekolah, terutama para siswa dengan disabilitas intelektual, melalui prosedur tanggap darurat yang terukur dan aplikatif. (*)
