BANYUWANGI – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan datangnya Bulan Suro, Panji Blambangan (Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan Banyuwangi) menggelar kegiatan budaya bertajuk “Gelar Budaya Keris 2026” pada 16–19 Juni 2026. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Cafe Museum Banyoewangi Tempo Doeloe, lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah tradisi jamasan pusaka, yakni ritual pembersihan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan pedang yang telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Jawa menjelang malam 1 Suro. Ritual yang sarat nilai budaya dan spiritual ini kembali digelar di Serambi Museum Blambangan dan mendapat perhatian besar dari masyarakat maupun wisatawan mancanegara.
Suasana khidmat saat prosesi jamasan berlangsung berhasil memikat seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard. Ia mengaku kagum melihat benda-benda pusaka berusia ratusan tahun yang masih terawat dengan baik hingga saat ini.
“Tidak sengaja saya lewat sini tadi, ternyata ada aktivitas yang saya tidak pernah lihat di tempat saya. Benda-benda kuno ini yang usianya ratusan tahun masih terlihat terjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus,” ujar Zoe saat ditemui di lokasi, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia masih menghormati dan menjaga peninggalan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Bagi masyarakat Banyuwangi, keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan karya seni adiluhung yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang tinggi. Karena itu, pelestarian pusaka menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan warisan leluhur.
Kegiatan Gelar Budaya Keris 2026 dipandu oleh KRT Ilham Triadi Nagoro, budayawan sekaligus kurator dan asesor keris LSP Perkerisan Indonesia yang telah tersertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Selain prosesi jamasan, acara juga menghadirkan pameran pusaka, layanan sertifikasi pusaka, konsultasi perawatan pusaka, serta edukasi budaya perkerisan bagi masyarakat umum.
Menurut Ilham, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada ritual tahunan, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih mengenal dan mencintai warisan budayanya sendiri.
“Kami berharap acara ini bisa benar-benar bermanfaat bagi warga Banyuwangi, khususnya dalam mengedukasi generasi penerus tentang pentingnya pelestarian pusaka tosan aji sebagai bagian dari identitas dan warisan luhur bangsa,” ujarnya di sela kegiatan.
Ia menegaskan bahwa tradisi perkerisan tidak boleh dipandang semata-mata dari sisi mistis, melainkan sebagai bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Ini bukan mistik semata, tapi bagian dari kearifan lokal yang sudah diwariskan turun-temurun,” tegas Ilham.
Selain menampilkan koleksi keris bersejarah, Gelar Budaya Keris 2026 juga menghadirkan sesi edukasi mengenai teknik perawatan pusaka dan pemahaman filosofi keris sebagai simbol jati diri bangsa.
“Generasi muda harus tahu bahwa keris bukan sekadar benda tajam, tetapi simbol jati diri dan kedaulatan budaya,” pungkas Ilham. (*)


