Kemarau Melanda, PU Pengairan Banyuwangi Petakan Wilayah Krisis Air Irigasi

BANYUWANGI – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi memetakan sejumlah wilayah pertanian yang mengalami kekurangan pasokan air irigasi selama musim kemarau. Pembangunan embung hingga sumur bor menjadi sejumlah opsi yang tengah dikaji untuk mengatasi persoalan tersebut.

Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, mengatakan pemetaan dilakukan untuk mengetahui titik-titik lahan pertanian yang kesulitan mendapatkan pasokan air.

“Untuk sementara memang kita maksimalkan sumber daya yang ada, sumber daya air yang ada,” kata Cahyanto di sela kegiatan Gebyar Merah Putih HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (31/8/2026).

Menurut Cahyanto, penanganan kekurangan air irigasi tidak bisa dilakukan dengan pola yang sama di setiap wilayah. Kondisi geografis dan ketersediaan sumber air masing-masing daerah berbeda. Bahkan, terdapat sejumlah lokasi yang tidak memiliki sumber air maupun embung.

Karena itu, Dinas PU Pengairan melakukan inventarisasi untuk menentukan solusi yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembangunan embung atau sumur bor.

“Ini sebetulnya permasalahan lama, tetapi kita evaluasi kembali. Tidak semuanya daerah seperti kemarin,” ujarnya.

Cahyanto mencontohkan kondisi di wilayah Purwoharjo. Saat pelaksanaan panen raya kedelai bersama TNI AL, wilayah tersebut juga menghadapi kendala pasokan air.

“Memang di sana tidak ada sumber air, tidak ada embung,” ungkapnya.

Untuk mencari solusi, Dinas PU Pengairan Banyuwangi kemudian berkoordinasi dengan Dinas Pertanian guna memetakan kebutuhan air di kawasan pertanian. Koordinasi lintas sektor dinilai penting karena ketersediaan air irigasi berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian dan upaya menjaga ketahanan ketahanan pangan.

“Kita coba diskusi dengan pertanian, memang di sana tidak ada sumber air, tidak ada embung. Nah, ini coba nanti kita rangkai, kita konsolidasikan dengan Dinas Pertanian,” jelas Cahyanto.

Pemetaan tersebut diharapkan dapat menghasilkan langkah penanganan yang lebih tepat sasaran, terutama bagi lahan pertanian yang berada di wilayah dengan keterbatasan sumber air.

Dengan inventarisasi dan koordinasi tersebut, pemerintah daerah berupaya memastikan kebutuhan air bagi sektor pertanian tetap terpenuhi, sekaligus mendukung keberlanjutan produksi pangan di Banyuwangi selama musim kemarau. (*)