Oleh : Fatah Yasin Noor (penyair),2026
Penyair (saya) menulis tentang keris. Orang yang gemar menulis dan membaca puisi tentu juga mengamati cabang seni lainnya. Sesuatu yang mengusik pikiran, yang sarat makna di balik keluasan kebudayaan — segala gerak-gerik manusia, cara manusia mengekspresikan kehidupannya. Termasuk di dalamnya: keris. Namun sejak kapan saya mulai bersentuhan dengan keris, saya tak tahu persis. Sejauh mana hakikat keris, termasuk apa yang konon dikandungnya, saya pun belum sepenuhnya paham. Justru hal-hal yang belum terjangkau akal inilah yang paling mendorong kita merenungi segala sesuatu yang bersifat gaib dan tak kasat mata.
Secara lahiriah, wujud keris memang terlihat serupa pada dasarnya; yang membedakan hanyalah corak pamor, komposisi bahan, dan pengerjaannya. Tentu saja yang kita bahas di sini adalah keris sejati berbahan logam — agar terbedakan dari keris mainan berbahan plastik sekadar hiburan anak-anak.
Keris yang bernilai tinggi tercipta dari logam pilihan serta keahlian luar biasa sang empu, sang maestro yang mengerjakannya dengan ketelitian nyaris mustahil, menjadikannya mahakarya luhur yang memukau. Kekaguman pun tumbuh menumpuk demi menumpuk: mata memandang wujudnya, tangan meraba permukaannya, hidung mencium aroma khas yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Yang tersentuh seutuhnya adalah rasa dan batin. Seringkali imajinasi melesat jauh kembali ke masa silam. Nenek moyang Nusantara memahami ilmu logam dengan sangat mendalam, bahkan mampu mengolah benda angkasa — meteor — menjadi bagian dari bilah keris. Mereka piawai meramu beragam jenis logam dengan takaran rahasia. Karena tersusun dari bahan unggulan, keris seolah abadi, melintasi berabad-abad waktu, seakan enggan musnah. Hingga kini pun kita masih bisa memegang dan merabanya.
Sesuai apa dikemukakan penulis buku ini dalam kata pengantarnya: keris menyimpan lembaran sejarah sekaligus jati diri budaya setempat. Nusantara kaya akan warisan budaya, baik benda maupun takbenda, yang membuktikan keluhuran seni leluhur — hal yang pun telah diakui dunia oleh UNESCO. Kemajuan peradaban Nusantara masa lampau pantas kita teladani dan renungi dengan penuh penghormatan. Di antaranya pula Banyuwangi, wilayah paling ujung timur Pulau Jawa — tanah kelahiran tradisi keris yang kini kita kenal sebagai Keris Blambangan.
Sejarah Singkat Keris Blambangan
Tradisi keris di tanah Blambangan berakar sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika wilayah ujung timur Jawa menjadi pusat pengrajin keris yang handal. Setelah runtuhnya Majapahit akhir abad ke-15, para empu besar berpindah dan menetap di sana, mewariskan kepandaian mereka hingga tumbuh corak tersendiri.
Ciri khas Keris Tangguh Blambangan terbentuk dari perpaduan empat pengaruh besar: Majapahit, Bali, Mataram, dan Madura. Hasilnya: bilah ukuran sedang, luk tidak terlalu melengkung tajam, gandik pendek dan agak miring ke samping, gonjo berbentuk sebit rontal, sogokan pendek dangkal dan cenderung lurus, serta pamor beralir miring-ngawat dengan besi berwarna keputihan yang khas.
Para empu legendaris yang namanya tercatat dalam Serat Panangguhing Dhuwung antara lain: Ki Supagati, Ki Tembarok, Ki Mendung, serta Ki Patrang — nama samaran Mpu Supo yang telah kita sebutkan — beserta putranya Empu Joko Suro pencipta Keris Suro yang konon dibentuk dengan pijatan tangan.
Puncak kejayaan seni keris Blambangan beriringan dengan masa pemerintahan Prabu Tawang Alun II (1655–1691), raja yang memerintah dari keraton di kawasan Macan Putih. Di masa inilah lahir pusaka paling tersohor: Keris Macan Putih, lambang kekuasaan dan pelindung kerajaan, dengan dapur khas berkelokan dua puluh satu luk — berbeda sepenuhnya dengan keris Kujang Macan Putih dari tanah Sunda.
Masa demi masa, corak Tanggung Blambangan terus berkembang: awalnya masih erat mirip keris Majapahit, lalu makin matang dengan sentuhan gaya Mataram dan Madura di abad ke-17 hingga ke-18, sebelum akhirnya kerajaan jatuh ke tangan VOC tahun 1768. Meski keruntuhan kerajaan datang, api pandai besi tak pernah padam — tradisi ini tetap mengalir dalam darah masyarakat suku Osing hingga hari ini.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon pun pernah mendengar nama Keris Blambangan. Namun wujud rupa sesungguhnya yang utuh, saya belum pernah menyaksikannya secara langsung. Buku Keris Blambangan: Dari Dhapur Hingga Tuahnya ini pun belum menutup seluruh kisah secara tuntas. Ia justru menyisakan teka-teki yang memancing rasa ingin tahu. Artinya, masih banyak hal yang harus ditelusuri dan dikaji sungguh-sungguh, agar tak sekadar berdasar kabar angin semata. Akan tetapi kita yakin: Keris Blambangan itu nyata adanya. Ia akan menjadi daya tarik baru bagi para peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mengungkap rahasianya satu demi satu. Kebenaran itu perlahan mulai terkuak.
Akan terungkap pula rentetan peristiwa sejarah yang membanggakan, yang saling terjalin erat dengan keris dan pamornya. Buku ini boleh dikatakan selaku pintu gerbang pembuka bagi hal-hal istimewa yang bersumber dari Kerajaan Blambangan — cikal bakal Banyuwangi masa kini. Ibarat kotak pandora, menyimpan beragam rahasia menarik. Sisanya tak perlu saya kutip lagi selengkapnya dari buku karya KRT. Ilham Triadi Nagoro, M.Pd. yang saya resensi ini.
Nilai dan kekhasan keris tak terlepas dari proses pembuatannya, riwayat penurunannya, serta siapa empu yang melahirkannya. Sayangnya catatan tertulis tentang para empu sangat terbatas. Ambil contoh Mpu Supo: kita tahu beliau lama menetap di wilayah Kerajaan Blambangan pada masa akhir Kerajaan Majapahit, di masa Prabu Brawijaya V — abad ke-15, saat pengaruh Islam mulai masuk dan menyebar di tanah Jawa. Beliau adalah pencipta keris Sengkelet yang sangat masyhur, dan diketahui pula memiliki nama samaran Ki Patrang. Corak keris Blambangan berakar dari tradisi Majapahit, lalu melebur dengan unsur seni Bali, Mataram, dan Madura — melahirkan gaya khas yang dikenal sebagai Tanggung Blambangan. Belum lagi kisah Keris Macan Putih milik tanah ini, yang berbeda sepenuhnya dengan Keris Kujang Macan Putih yang dikaitkan dengan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda.
Ujung timur Pulau Jawa ini memang menyimpan begitu banyak jejak masa lalu yang menantang para peneliti, pemerhati sejarah, maupun sejarawan untuk terus mengungkapnya secara utuh.
Fatah Yasin: Pewaris Ilmu Empu Supo
Empu Supo — yang juga dikenal dengan nama agung Mpu Supa Mandrangi, Ki Patrang, maupun Pangeran Sedayu — bukan sekadar pengrajin keris legendaris yang namanya abadi dalam lembaran budaya Nusantara. Lebih dari itu, beliau adalah jembatan ilmu yang menghubungkan dua dunia besar: kemegahan tradisi Majapahit dan keunikan seni Blambangan. Warisannya tak hanya tertinggal pada bilah-bilah pusaka yang memancarkan pamor, melainkan juga mengalir dalam darah keturunannya, yang meneruskan nyala api menempa logam dari satu masa ke masa berikutnya.
Dari perjalanan hidupnya yang melintasi batas kerajaan, Empu Supo dikaruniai anak-anak dari dua pernikahan yang berbeda, masing-masing menjadi cabang penting pohon keilmuan leluhurnya. Dari pernikahan pertamanya dengan Dewi Rasawulan — yang tak lain adalah adik Sunan Kalijaga — lahirlah Empu Supa Muda, yang juga dikenal sebagai Empu Jaka Supa. Ia tumbuh menyerap sepenuhnya rahasia menempa yang diajarkan ayahnya, lalu meneruskan jejak langkah sang empu di tanah kelahiran ayahnya: wilayah Sedayu hingga ke seberang di Tuban. Di sana ia menjaga kemurnian ilmu warisan leluhur, membiarkannya tumbuh dan mekar di jalur yang sempat dilalui sang ayah.
Namun kisah lain terjalin di ujung timur Jawa, di tanah Blambangan. Di sana, dari persandingan dengan Dewi Lara Upas atau Raden Rara Ayu Upas — putri bangsawan sekaligus adik Adipati Blambangan — lahirlah putra yang kelak akan menjadi jembatan budaya itu sendiri: Jaka Sura, yang lebih masyhur dengan sebutan Joko Suro. Sebelum Empu Supo berangkat pulang kembali ke pusat Majapahit, beliau sempat meninggalkan pesan mendalam: kelak jika lahir seorang putra, namailah Jaka Sura, dan suruhlah ia menyusul ke tanah Majapahit saat waktunya tiba. Pesan itu menjadi janji yang terpenuhi. Joko Suro tumbuh besar di bawah langit Blambangan; sejak dini jiwanya sudah tertarik pada logam dan api, gemar membentuk senjata serta benda pusaka. Konon karyanya begitu banyak hingga memenuhi dua peti kayu, dan sisa keris yang tak lagi sanggup diselipkan di pinggang itulah yang kemudian dikenal orang sebagai Keris Suro. Ketika ia dewasa, ia menepati pesan ayahnya: melangkah pergi menuju Majapahit, bertemu dengan Empu Supo, dan akhirnya diakui serta diangkat menjadi empu keris, mewarisi nama besar ayahnya sebagai Empu Supa II. Dalam catatan masa lalu, namanya kadang tertulis pula sebagai Joko Tole — satu sosok yang dikenang dengan dua sebutan.
Joko Suro bukan sekadar pewaris nama. Ia adalah penghubung tak ternilai yang menyatukan dua aliran besar seni keris: kearifan yang dibawa ayahnya dari Majapahit dengan corak khas yang tumbuh subur di tanah Blambangan. Tangannya memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki orang lain: kemampuan membentuk bilah keris dengan sentuhan halus, yang kemudian dikenal sebagai corak Pijetan — konon terbentuk lebih banyak dari rabaan jari dan perasaan yang mendalam, bukan semata hantaman palu di atas paron. Di samping itu, jejak ilmu Empu Supo pun terjaga oleh saudaranya sendiri, Mpu Supagati, yang setia mendampingi langkah kakaknya ke Blambangan dan turut mewariskan keahlian yang sama kepada generasi sesudahnya.
Demikianlah warisan Empu Supo tak musnah bersama waktu. Ia terbagi menjadi dua aliran, tumbuh di dua tanah berbeda, lalu dipersatukan kembali oleh putranya sendiri — menjadi jalinan yang tak terputus, membuktikan bahwa ilmu menempa keris sejati tak hanya tertuang dalam logam yang keras, melainkan juga mengalir dalam darah dan keteguhan hati para pewarisnya.
