Danramil Pesanggaran Hadiri Tradisi Petik Laut Pantai Rajegwesi, Wujud Sinergi Lestarikan Budaya Pesisir

PESANGGARAN – Komandan Koramil (Danramil) 0825-11/Pesanggaran, Kapten Arm Edy Tri Santoso, menghadiri prosesi Tradisi Adat Tahunan Larung Sesaji Tabur Bunga Petik Laut yang digelar di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan budaya yang menjadi warisan turun-temurun masyarakat pesisir tersebut dihadiri jajaran Forkopimka Plus Kecamatan Pesanggaran, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Sarongan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, para nelayan, serta ribuan warga yang memadati kawasan Pantai Rajegwesi.

Kehadiran unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa menjadi wujud sinergi dalam mendukung pelestarian budaya lokal yang telah mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat pesisir Banyuwangi.

Tradisi Petik Laut merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang telah diberikan. Melalui tradisi ini, masyarakat juga memanjatkan doa agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan, kelancaran, serta rezeki yang melimpah dalam setiap aktivitas melaut.

Prosesi utama dalam tradisi tersebut adalah Larung Sesaji, yaitu menghanyutkan miniatur perahu yang berisi hasil bumi dan berbagai sesaji ke tengah laut sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan keberkahan. Sebelum dilarung, sesaji diarak menuju bibir pantai dengan iringan Tari Gandrung. Barisan prosesi dipimpin oleh tetua adat, diikuti para pembawa sesaji, masyarakat, serta jajaran Forkopimka Plus Kecamatan Pesanggaran.

Selain prosesi adat, perayaan Petik Laut Tahun 2026 juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan rakyat, pertunjukan seni budaya, serta kegiatan keagamaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut semakin memperkuat nilai kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.

Danramil 0825-11/Pesanggaran Kapten Arm Edy Tri Santoso menyampaikan bahwa Tradisi Petik Laut bukan hanya menjadi simbol rasa syukur masyarakat nelayan, tetapi juga merupakan aset budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan bersama.

“Tradisi ini memiliki nilai budaya, spiritual, dan kebersamaan yang sangat tinggi. Kehadiran seluruh unsur pemerintah bersama masyarakat merupakan bentuk komitmen untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat persatuan dan mendukung pengembangan wisata budaya di Pantai Rajegwesi,” ujarnya. (*)