Spektakuler! 1.100 Pelajar Banyuwangi Suguhkan Kuntulan Ewon, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Terpukau

Banyuwangi – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Taman Blambangan berlangsung meriah dan penuh makna. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pergelaran seni kolosal “Kuntulan Ewon” yang melibatkan lebih dari seribu pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.

Sebanyak 1.100 siswa dari tingkat SD hingga SMA se-Banyuwangi tampil memukau dalam pertunjukan yang memadukan seni tari dan musik tradisional kuntulan secara massal. Penampilan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya lokal.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang hadir langsung dalam perayaan tersebut mengaku takjub dengan kemeriahan dan kualitas pertunjukan.

“Ini peringatan Hari Pendidikan Nasional terbaik se-Indonesia. Semangat seperti ini harus terus kita tingkatkan,” ujarnya.

Kuntulan Ewon sendiri dibawakan oleh sekitar 1.060 pelajar, terdiri dari 560 penabuh rebana dan 500 penari. Mereka berkolaborasi dengan para seniman dan budayawan, menampilkan harmoni gerak, musik, dan lantunan shalawat yang sarat nilai religius dan kebersamaan.

Ribuan pelajar tampil kompak dalam formasi rapi yang memenuhi lapangan. Para penabuh mengenakan busana adat Osing berwarna hitam dengan udeng, dipadukan aksen merah putih. Sementara para penari bergerak dinamis mengikuti irama tabuhan rebana, menciptakan gelombang gerak yang indah dan memukau penonton.

Momentum semakin semarak saat Abdul Mu’ti bersama Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut naik ke tengah arena dan menari bersama para pelajar.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada wawasan global, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal.

“Anak-anak kita boleh berwawasan global, tetapi tidak boleh meninggalkan budaya luhur bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa Hardiknas menjadi momentum penting untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah.

“Melalui Kuntulan Ewon, kami ingin menunjukkan bahwa pelajar Banyuwangi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan bangga terhadap budaya sendiri,” ujarnya.

Pergelaran Kuntulan Ewon bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana edukasi yang memperkuat identitas budaya, kreativitas, serta karakter generasi muda Banyuwangi. Sebuah contoh nyata bahwa pendidikan dapat berjalan selaras dengan pelestarian tradisi. (Ilham)