Actanews.id – Dalam sebuah momen yang menandai pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas literasi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Drs. Zen Kostolani, M.Si., menerima penghargaan bergengsi “Mitra Literasi Digital” dari Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi. Penghargaan ini diberikan pada perayaan ulang tahun ke-5 yayasan tersebut, yang digelar pada Selasa (17/12), di Hallroom Hotel Tanjung Asri Banyuwangi.
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh penting di bidang literasi, seni, dan pendidikan, termasuk Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, dr. Chaironi Hidayat; Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB), Hasan Basri; Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi; serta perwakilan dari komunitas seni dan sastra seperti Hakim Said dari Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo.
Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, S.H., M.H.I., dalam sambutannya mengapresiasi peran aktif Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dalam mengembangkan literasi digital di Banyuwangi. “Kehadiran Dinas Perpusip sangat signifikan dalam mendorong literasi digital di daerah ini. Banyak buku digital yang telah diterbitkan, menjadi bukti nyata dedikasi mereka,” ujar Syafaat.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan komunitas literasi merupakan kunci utama untuk menciptakan masyarakat yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga melek teknologi. “Transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan budaya literasi. Inisiatif Dinas Perpusip Banyuwangi adalah teladan yang patut diapresiasi,” imbuhnya.
Dalam pidato penerimaannya, Drs. Zen Kostolani, M.Si., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan tersebut. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. “Penghargaan ini adalah milik kita semua. Mulai dari tim Dinas Perpusip hingga komunitas literasi dan masyarakat luas yang peduli pada kemajuan literasi,” ujarnya.
Zen juga menyoroti tantangan era digital, khususnya terkait perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI). “AI memang memudahkan banyak hal, tetapi kecerdasan manusia tetap menjadi yang utama. Sastra yang lahir dari jiwa manusia memiliki kedalaman yang tak bisa ditiru oleh mesin,” tegasnya.
Selain penganugerahan, acara ini juga menjadi ajang diskusi ringan tentang peran teknologi dalam literasi. Samsudin Adlawi dari Radar Banyuwangi mengingatkan pentingnya bijak memanfaatkan teknologi. “Literasi digital membuka peluang besar bagi seniman dan penulis untuk menjangkau lebih banyak audiens, tapi esensi karya tetap berasal dari hati manusia,” katanya.
Sementara itu, Hakim Said menekankan pentingnya menjaga identitas bangsa melalui literasi. “Sastra adalah cerminan karakter bangsa. Literasi yang kuat membantu kita menjaga kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi,” ujarnya.
Ketua DKB, Hasan Basri, juga memuji kolaborasi yang sudah terjalin antara pemerintah dan komunitas sastra. “Ini adalah bukti nyata komitmen kita bersama untuk menjaga kebudayaan lokal, khususnya di bidang literasi,” ujarnya penuh semangat.
Acara yang berlangsung hangat ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor mampu mendorong literasi menjadi bagian penting dari transformasi digital di Banyuwangi. Ke depannya, diharapkan sinergi ini terus berkembang untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur budaya dan kebangsaan.
