Actanews.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi terus berinovasi dalam pembinaan warga binaannya. Salah satu upaya terbaru adalah pelatihan terapi tradisional yang diadakan di Aula Sahardjo, Sabtu (14/12). Kegiatan ini bertujuan membekali para warga binaan dengan keterampilan praktis untuk mendukung mereka saat kembali ke masyarakat.
Puluhan warga binaan tampak antusias mengikuti pelatihan yang menggandeng Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pokjar Giri. Dalam kegiatan ini, mereka diajarkan berbagai teknik terapi tradisional seperti pijat refleksi, teknik pengobatan herbal, hingga metode terapi lain yang menjadi warisan budaya Indonesia.
Kepala Lapas Banyuwangi, Agus Wahono, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan untuk memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan. “Kami ingin mereka memiliki kemampuan yang bermanfaat, sehingga setelah bebas nanti, mereka bisa lebih percaya diri dan mandiri,” ujar Agus dalam sambutannya.
Menurut Agus, terapi tradisional dipilih karena potensi pasarnya yang cukup besar, terutama di masyarakat yang mulai kembali melirik pengobatan alternatif. “Terapi ini tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga mengajarkan nilai budaya dan kearifan lokal,” tambahnya.
Salah satu peserta, LU (31) yang terjerat kasus penyalahgunaan narkoba, mengaku senang mendapat pelatihan ini. Ia berharap keterampilan yang diperolehnya bisa menjadi modal untuk membuka usaha. “Pelatihan ini memberi saya harapan baru. Mungkin nanti saya bisa menghidupi keluarga lewat usaha terapi tradisional,” ungkapnya penuh semangat.
Membangun Kemandirian
Tidak hanya memberikan ilmu, pelatihan ini juga diharapkan mampu membangun karakter warga binaan agar lebih siap menghadapi tantangan hidup di luar tembok Lapas. Selain keterampilan teknis, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik.

Program ini menjadi bukti nyata komitmen Lapas Banyuwangi untuk menciptakan suasana yang produktif dan membangun semangat warga binaan menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan bekal keterampilan ini, warga binaan diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi diri sendiri dan masyarakat setelah bebas.
