Actanews.id – Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK), di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi kembali menjadi sorotan nasional sebagai tempat belajar harmoni keberagaman. Pada Jumat (13/12), sebanyak 41 pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mojokerto mengunjungi RKBK untuk menggali pengalaman Banyuwangi dalam menjaga keharmonisan di tengah keragaman etnis, agama, dan budaya.
Dipimpin oleh Ketua FKUB Mojokerto, Drs. H. Mahfudz Said, M.Pd, yang juga menjabat sebagai salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mojokerto, rombongan tersebut menyampaikan apresiasi mendalam atas keberhasilan Banyuwangi sebagai miniatur Indonesia. “Kabupaten Banyuwangi adalah contoh nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang. Kehidupan harmonis di sini memberikan pelajaran berharga bagi kami,” ungkap Mahfudz dalam sambutannya.


Acara ini dipandu oleh Hakim Said, perwakilan dari RKBK, dan dihadiri tokoh lintas agama, budayawan, serta masyarakat sekitar. Dalam dialog, Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, berbagi pengalaman uniknya dengan H. Nur Rakhmad, anggota FKUB Mojokerto yang juga Pembimbing Ibadah Haji Embarkasi Surabaya.
“Kami pernah bertugas bersama sebagai petugas haji tahun ini. Dari tanah suci hingga tanah air, kami memahami pentingnya komunikasi lintas budaya dan agama untuk memperkuat persatuan,” cerita Syafaat.
Hakim Said menjelaskan, RKBK dirancang sebagai ruang bersama untuk menyelesaikan persoalan sosial secara santai namun efektif. “Di sini, semua masalah bisa dibicarakan dengan baik sambil menikmati secangkir kopi. Dialog adalah kunci,” katanya.
Kelurahan Karangrejo, lokasi RKBK, menjadi simbol harmonisasi keberagaman. Kawasan ini dihuni berbagai etnis dan agama, serta menjadi rumah bagi kelenteng terbesar di Indonesia yang berdiri sejak sebelum kemerdekaan.
Selain itu, Banyuwangi memiliki Kampung Pancasila di Desa Patemon, tempat masyarakat dari berbagai latar belakang hidup berdampingan. Desa Yosomulyo, dengan slogan “Desaku Beda Tapi Mesra,” bahkan dinobatkan sebagai Kampung Moderasi Beragama Nasional peringkat delapan tahun lalu.
“Karangrejo, Kampung Bali, hingga Yosomulyo adalah bukti nyata bagaimana keragaman dapat menciptakan harmoni yang menginspirasi,” tambah Hakim.
Budaya lokal juga menjadi penggerak kerukunan di Banyuwangi. Aekanu Hariyono, pengurus Dewan Kesenian Belambangan (DKB), menekankan pentingnya seni sebagai perekat sosial. “Banyuwangi kaya akan seni dan budaya yang mengajarkan kita bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dirawat bersama,” jelasnya.
Moh. Choiron, Ketua Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS), menambahkan bahwa komunitas seni di Banyuwangi kerap terlibat dalam kegiatan lintas agama untuk mempererat dialog. “Seni adalah bahasa universal yang menyatukan semua orang,” ujarnya.
Kunjungan ini diakhiri dengan refleksi mendalam dari Mahfudz Said. “Kami akan membawa pulang banyak pelajaran dari Banyuwangi. Semoga semangat harmoni ini menyebar ke seluruh pelosok Indonesia,” tutupnya.
