Tradisi Perang Petasan di Bulan Ramadhan dan Lebaran: Simbol Kegembiraan atau Ancaman

Banyuwangi, Actanews.id – Suara dentuman petasan pipa berbahan spiritus kembali menggema bersahutan di lingkungan kelurahan Pakis, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, seiring terbitnya fajar. Di Jalan Letjen S. Parman, tepatnya di Doble Way, menjadi saksi keceriaan sekelompok anak-anak dari dua kubu, Barat dan Timur, yang sedang perang petasan meriam berbahan pipa paralon dan botol air mineral.

Tradisi ini, yang rutin terjadi saat bulan puasa Ramadhan, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia. Namun, bagaimana sejarah dan dampak dari tradisi yang dilakukan di hampir seluruh wilayah Indonesia ini?

Di Indonesia sendiri, penggunaan petasan telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, berbahan bubuk mesiu. Petasan pun dianggap sebagai bagian dari ritual keagamaan dan upacara adat di masyarakat Jawa, digunakan dalam selamatan dan pengobatan tradisional.

Seiring berkembangnya jaman, bagi umat muslim, petasan selain menjadi hiburan, petasan pada bulan Ramadan dan Lebaran juga dianggap sebagai simbol kegembiraan dan kemenangan atas bulan puasa serta ibadah selama Ramadan. Membunyikan petasan telah menjadi tradisi yang sulit dipisahkan dari momen perayaan Lebaran di Indonesia, di mana anak-anak dan dewasa sama-sama merayakan momen ini dengan melemparkan petasan dan kembang api, atau menyulut meriam yang berbahan spiritus.

Namun, penggunaan petasan juga menimbulkan kontroversi. Suara keras petasan dapat mengganggu ketenangan masyarakat sekitar. Terlebih lagi, penggunaan petasan berpotensi menimbulkan kebakaran dan kecelakaan, seperti yang sering terjadi saat perayaan Lebaran.

Sebagai masyarakat yang cerdas dan bertanggung jawab, penting bagi kita untuk selalu mengutamakan keselamatan dan keamanan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, termasuk dalam tradisi penggunaan petasan. Semoga tradisi ini tetap dapat dirayakan dengan meriah namun tetap aman bagi semua pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *