BANYUWANGI – Ratusan pelajar sekolah dasar diajak belajar langsung di kawasan sumber air tertua dan bersejarah di Banyuwangi melalui program inovatif bertajuk Wisesa Sikadi (Wisata Edukasi Sejak Usia Dini). Program ini digagas oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi bersama lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Kegiatan perdana yang diluncurkan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pada Rabu (13/5/2026) tersebut diikuti 75 siswa SD dari Banyuwangi. Mereka diajak mengenal sejarah, proses pengolahan air bersih, hingga pentingnya menjaga kelestarian lingkungan secara langsung di kawasan Sumber Gedor.
Mata air Sumber Gedor sendiri merupakan salah satu sumber air tertua di Banyuwangi yang telah beroperasi sejak 1927. Instalasi peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda itu hingga kini masih menjadi andalan PUDAM Banyuwangi dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Direktur PUDAM Banyuwangi, Abdurrahman, menjelaskan bahwa kawasan Sumber Gedor bukan hanya sumber mata air biasa, tetapi juga memiliki nilai sejarah tinggi sebagai peninggalan kolonial Belanda yang dibangun sejak 1926.
“Sumber Gedor ini merupakan cagar budaya peninggalan Belanda sejak 1926. Anak-anak dikenalkan tentang sejarah, air, dan vegetasi di sekitar sumber mata air,” ujarnya.
Menurut Abdurrahman, edukasi sejak dini penting dilakukan agar generasi muda memahami nilai strategis sumber air sekaligus ikut menjaga keberlanjutannya di masa depan.
Ia juga memastikan kualitas air PUDAM Banyuwangi tetap terjaga karena berasal langsung dari sumber alami dan rutin menjalani pengujian laboratorium setiap bulan oleh Dinas Kesehatan.
“Air dari PUDAM Banyuwangi ini merupakan air terbaik dan bisa langsung diminum dari kran rumah. Unsur kesehatannya selalu dijaga karena rutin dilakukan pengecekan laboratorium,” tegasnya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut positif hadirnya program Wisesa Sikadi. Menurutnya, pembelajaran di luar ruang seperti ini mampu memberikan pengalaman yang lebih kontekstual bagi para siswa.
“Belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Melalui program ini, anak-anak bisa memahami langsung proses produksi air bersih, sejarah, dan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini,” kata Ipuk.
Melalui program tersebut, para siswa tidak hanya diajak berwisata edukatif, tetapi juga memahami bagaimana air bersih diproduksi, pentingnya menjaga kelestarian sumber mata air, serta dampak lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Banyuwangi, KRT Ilham Triadi, menilai Sumber Gedor layak segera ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya karena memiliki nilai sejarah penting bagi Banyuwangi.
“Sumber Gedor adalah warisan Belanda yang menjadi nadi air bersih Banyuwangi sejak dahulu hingga sekarang,” ujarnya.
Ilham menjelaskan, bendungan dan instalasi Sumber Gedor dibangun Pemerintah Kolonial Belanda pada 1926 dan diresmikan setahun kemudian, tepatnya pada 1927. Pembangunannya hanya memakan waktu satu tahun dan melibatkan warga sekitar sebagai pekerja proyek tanpa upah, dengan sistem kerja yang menyerupai kerja paksa pada masa itu.
Pembangunan Sumber Gedor juga bersamaan dengan pembangunan jembatan penghubung antara Kelurahan Gombengsari dan kawasan Perkebunan Kali Klatak.
Berada di tengah kawasan hutan, Sumber Gedor pada masa lalu belum bisa dinikmati langsung oleh seluruh masyarakat Banyuwangi. Warga saat itu hanya memanfaatkan aliran airnya karena akses menuju sumber utama masih sulit dan menakutkan.

Meski dibangun pada era kolonial, hingga kini Sumber Gedor tetap menjadi salah satu sumber vital penyuplai air bersih di Banyuwangi. Instalasi bersejarah tersebut masih terus dimanfaatkan PUDAM Banyuwangi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. (Ilham)
