Jakarta – Rangkaian doa dan ritual spiritual dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Polri yang digagas oleh R. Mas Agus Rugiarto Astrodiarjo terus berkembang menjadi gerakan spiritual lintas Nusantara yang sarat nilai sejarah, budaya, dan kebangsaan. Sejak dimulai pada 2017, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan perjalanan batin yang menelusuri jejak leluhur Bhayangkara dan akar peradaban bangsa Indonesia.
Perjalanan spiritual tersebut diawali pada 2017 melalui prosesi tabur bunga di makam Presiden pertama RI, Soekarno, di Blitar, Jawa Timur. Momentum itu menjadi simbol penghormatan terhadap sang Proklamator sekaligus peneguhan nilai nasionalisme dalam pengabdian Polri kepada bangsa dan negara.
Pada 2019, ritual dilanjutkan di situs makam Raden Wijaya di Mojokerto, disusul pada 2020 di makam Brawijaya V. Kedua lokasi bersejarah itu dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan besar Kerajaan Majapahit yang menjadi simbol persatuan dan kejayaan Nusantara.
Nuansa spiritual semakin terasa pada 2021 ketika doa bersama digelar di kawasan Gunung Bromo. Keheningan alam dan suasana sakral pegunungan menghadirkan refleksi mendalam tentang pengabdian, keteguhan, dan harapan bagi institusi Polri.
Memasuki 2022, rangkaian doa bergerak ke Pulau Kumala, Kalimantan Timur. Lokasi yang berada di jantung Pulau Borneo itu menjadi simbol meluasnya semangat persatuan dan doa lintas daerah untuk Indonesia yang aman dan damai.
Sementara itu, Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi pusat perhatian pada 2023 dan 2024. Gelombang doa dan shalawat yang digelar berhasil menghadirkan puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah. Sekitar 20 ribu jamaah hadir pada 2023, sedangkan 15 ribu jamaah memadati lokasi pada 2024. Ribuan masyarakat bersatu dalam lantunan doa demi terciptanya Polri yang semakin humanis, kuat, dan dekat dengan rakyat.
Pada 2025, kegiatan spiritual tersebut kembali digelar di kawasan religius Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. Kehadiran para ulama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah mempertegas sinergi antara nilai spiritual, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kini, menuju puncak acara pada 2026, panitia menargetkan kehadiran lebih dari 30 ribu jamaah dalam doa akbar yang akan berlangsung hingga pukul 02.00 WIB pada 1 Juli 2026. Momentum ini diharapkan menjadi gelombang energi spiritual nasional untuk mendoakan Polri agar semakin profesional, humanis, dan dicintai rakyat.
“Mohon doa dan keberkahannya agar seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan lancar serta membawa manfaat bagi bangsa dan institusi Polri,” demikian pesan yang disampaikan penyelenggara.
Di tengah hening malam yang akan dipenuhi lantunan doa dan shalawat, tersimpan harapan besar agar Polri tidak hanya kokoh secara struktural, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual, berpijak pada nilai luhur para leluhur Bhayangkara serta semangat persatuan Indonesia.
# Bravo Polri #
