Dukung 194 Hektare Lahan Pertanian, Pemkab Pasuruan Benahi Saluran Irigasi di Rembang

Foto : Kegiatan pengangkatan sedimentasi dari dasar saluran irigasi pertanian di kawasan Pekoren Rembang oleh Dinas SDABMBK Kab. Pasuruan  

Pasuruan, Actanews.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi melakukan normalisasi saluran irigasi di wilayah Kecamatan Rembang. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan distribusi air bagi ratusan petani, khususnya di Desa Mojoparon dan wilayah sekitarnya yang selama ini mengalami kendala pasokan air untuk kebutuhan pertanian.

Normalisasi dilakukan pada saluran hulu primer Badong hingga saluran sekunder Balongbendo, Kecamatan Rembang, dengan panjang penanganan sekitar satu kilometer. Pekerjaan tersebut menggunakan alat berat untuk mempercepat proses pengerukan sedimentasi serta pembersihan saluran yang mengalami pendangkalan.

Upaya ini merupakan tindak lanjut atas keluhan petani terkait terganggunya aliran air irigasi yang berdampak pada lahan pertanian seluas kurang lebih 194 hektare. Melalui penanganan tersebut, Pemkab Pasuruan berupaya memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi air agar aktivitas pengolahan lahan hingga masa tanam dapat berjalan lebih optimal.

Staf Bidang Sumber Daya Air Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi Kabupaten Pasuruan, Alif Junaedi, mengatakan pekerjaan normalisasi telah berlangsung hampir satu bulan. Pembiayaan kegiatan tersebut bersumber dari anggaran rutin dinas.

“Pekerjaan sudah berjalan hampir satu bulan. Penanganan meliputi pengerukan sedimentasi berupa endapan lumpur di dasar saluran irigasi serta perbaikan tanggul yang jebol agar air tidak terbuang dan dapat mengalir sesuai kebutuhan,” jelas Alif Junaedi saat dikonfirmasi, Rabu (14/10).

Ia menjelaskan, pengerukan sedimentasi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kapasitas tampung dan kelancaran aliran air. Endapan lumpur yang menumpuk berpotensi menghambat debit aliran, terutama ketika kebutuhan air pertanian meningkat.

Untuk mendukung efektivitas pekerjaan, dinas menerjunkan alat berat berukuran sedang ke lokasi. Penggunaan alat berat tersebut ditujukan untuk mempercepat pengerukan material yang mengendap sekaligus mempermudah pembersihan saluran pada titik-titik yang mengalami penyumbatan.

Selain persoalan sedimentasi, kondisi fisik saluran juga menjadi perhatian. Sejumlah bagian pasangan batu dilaporkan mengalami kebocoran sehingga air irigasi merembes keluar sebelum mencapai lahan pertanian yang membutuhkan pasokan air.

Dino Mauludin, operator alat berat yang bertugas di lokasi, menyampaikan bahwa pengerjaan telah berlangsung sekitar satu bulan. Menurutnya, secara umum proses pengerukan berjalan tanpa kendala teknis berarti. Namun, kebocoran pada sejumlah bagian saluran masih membutuhkan penanganan agar fungsi jaringan irigasi dapat bekerja lebih optimal.

“Selain normalisasi, kami juga melakukan perbaikan tanggul yang jebol agar air tidak terbuang. Di beberapa bagian, terdapat kebocoran melalui rongga pasangan batu yang perlu ditangani secara tepat dan permanen,” ujarnya.

Penanganan sedimentasi, pembersihan saluran, serta perbaikan tanggul dan bagian konstruksi yang mengalami kerusakan diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penyaluran air menuju lahan pertanian.

Dengan normalisasi tersebut, petani di Desa Mojoparon dan sekitarnya diharapkan memperoleh pasokan air irigasi yang lebih lancar. Perbaikan fungsi saluran ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung produktivitas pertanian serta menjaga keberlangsungan kegiatan usaha tani di wilayah Kecamatan Rembang.(Tya)