BANYUWANGI – Kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami diuji melalui Latihan KOGASGABPAD V/Brawijaya dalam rangka membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi menanggulangi bencana alam, Sabtu (8/8/2026).
Latihan tersebut melibatkan personel gabungan dari Kodim 0825/Banyuwangi, Lanal Banyuwangi, personel Pos AU, Polri, serta berbagai stakeholder kebencanaan di Kabupaten Banyuwangi.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi dan memastikan setiap personel memahami tugas serta tanggung jawab masing-masing ketika menghadapi situasi darurat.
Skenario latihan difokuskan pada penanganan bencana gempa bumi yang berpotensi diikuti tsunami. Rangkaian kegiatan mencakup kesiapan personel, koordinasi antarlembaga, proses evakuasi masyarakat, penyelamatan korban, hingga penanganan warga di lokasi terdampak bencana.
Dalam pelaksanaannya, setiap unsur bergerak sesuai fungsi dan perannya dengan mengedepankan kecepatan, ketepatan, serta keterpaduan.
Latihan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menguji kesiapan prosedur operasional, sistem komunikasi, serta koordinasi lintas sektor. Hal ini dinilai penting agar ketika bencana benar-benar terjadi, seluruh unsur dapat memberikan respons secara cepat dan efektif.
Tak hanya menguji kemampuan dalam proses penyelamatan, rangkaian latihan juga mencakup penanganan masyarakat terdampak. Pengobatan massal digelar untuk memberikan pelayanan kesehatan, disertai pemberian bantuan sosial berupa paket sembako kepada warga.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran tahapan penanganan pascabencana, ketika kebutuhan dasar dan pelayanan kesehatan masyarakat menjadi salah satu prioritas utama.
Melalui latihan KOGASGABPAD V/Brawijaya, seluruh unsur diharapkan semakin siap, solid dan responsif dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah Banyuwangi.
Sinergi antara TNI, Polri, Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder kebencanaan menjadi kekuatan penting dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang cepat, terpadu dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.

Kesiapsiagaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bagian dari latihan, tetapi menjadi bekal bersama untuk menghadapi kondisi darurat sekaligus meminimalkan risiko dan korban apabila bencana sewaktu-waktu terjadi. (*)
