MALANG – Festival budaya Malang Djadoel 3 kembali digelar untuk mengajak masyarakat bernostalgia dengan suasana tempo dulu. Kegiatan yang mengusung konsep pasar kangen ini berlangsung selama enam hari, mulai 30 Juni hingga 5 Juli 2026, di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang. Menariknya, seluruh rangkaian acara dapat dinikmati masyarakat tanpa dipungut biaya alias gratis.
Menghadirkan nuansa khas era 1980 hingga 1990-an, Malang Djadoel 3 tidak sekadar menjadi ajang bazar, tetapi juga ruang pelestarian budaya yang mempertemukan berbagai generasi. Pengunjung diajak mengenang masa lalu melalui beragam koleksi barang antik, kuliner legendaris, pertunjukan seni budaya, hingga pemutaran film layar tancap.
Salah satu daya tarik utama festival ini adalah bazar barang antik yang menampilkan beragam koleksi bernilai sejarah. Mulai dari gramofon klasik, uang koin kuno, peralatan rumah tangga tempo dulu, mainan lawas, hingga berbagai benda bersejarah lainnya dipamerkan dan diperjualbelikan. Harga koleksi tersebut bervariasi, mulai Rp10 ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung usia, kelangkaan, dan nilai historisnya.
Bagi pecinta kuliner, festival ini juga menghadirkan aneka jajanan dan makanan khas yang kini mulai sulit ditemukan. Pengunjung dapat menikmati es gulali, es soda gembira, roti jadul, jajanan pasar tradisional, hingga beragam kuliner khas Malang yang membangkitkan kenangan masa kecil.
Suasana nostalgia semakin terasa melalui hiburan rakyat yang disuguhkan setiap hari. Pengunjung dapat menikmati pemutaran film layar tancap, pertunjukan musik lawas, keroncong, lagu-lagu populer era 90-an, serta berbagai kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa Timur.
Selain itu, Malang Djadoel 3 juga menghadirkan pameran seni yang menampilkan koleksi keris pusaka, lukisan bertema tempo dulu, serta dokumentasi foto Kota Malang pada masa lampau.

Salah satu panitia penyelenggara, Edy Indra Putra, mengatakan bahwa festival ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
“Malang Djadoel 3 menjadi ruang temu antara generasi yang ingin bernostalgia dengan generasi muda yang ingin mengenal kehidupan masa lalu. Festival ini membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat Malang dan sekitarnya,” ujarnya.
Pertunjukan seni budaya menjadi salah satu agenda yang paling banyak mendapat apresiasi dari pengunjung. Panggung utama selalu dipadati penonton yang ingin menyaksikan penampilan Tari Topeng Malangan, Bantengan, Kuda Lumping, Reog, hingga Ludruk yang menghibur sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisional Jawa Timur.
Sementara itu, pemutaran film layar tancap juga sukses menghadirkan suasana khas masa lalu. Banyak pengunjung memilih duduk lesehan bersama keluarga dan teman-teman untuk menikmati pengalaman menonton seperti yang pernah mereka rasakan pada masa kecil.


Meski demikian, sejumlah pengunjung memberikan catatan terkait masih adanya beberapa tenant yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan tema tempo dulu. Namun hal tersebut tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk menghadiri festival.
“Boleh saja ada kekurangan, tetapi rasa kangen dengan suasana tempo dulu jauh lebih besar. Kami tetap datang untuk menikmati dan mendukung acara budaya ini,” ungkap salah seorang pengunjung. (Ilham)
