Hari Keris Nasional 2026 Digelar di Malang, Dorong Transformasi Digital Budaya Keris

Malang – Perhelatan Hari Keris Nasional 2026 akan digelar selama tiga hari, pada 17–19 April 2026, di Gedung Bakorwil III, Kota Malang, Jawa Timur. Mengusung tema “Keris untuk Abdi Negara” dengan subtema “Menggali Akar Sang Maestro Empu Gandring,” kegiatan ini diproyeksikan menjadi magnet bagi pecinta budaya, kolektor, hingga akademisi perkerisan dari seluruh Indonesia.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi lintas lembaga, melibatkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Bakorwil III Malang, komunitas pelestari tosan aji, serta LSP Perkerisan Indonesia. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian sekaligus pengembangan budaya keris di era modern.

Beragam agenda menarik akan meramaikan kegiatan ini. Pengunjung dapat menyaksikan pameran keris milik Prabowo Subianto, koleksi pusaka Menteri Kebudayaan RI, hingga pusaka Garuda Nuswantoro dan tosan aji yasan enggal. Selain itu, tersedia pula bursa koleksi serta prosesi budaya seperti jamasan dan mewarangi pusaka yang sarat nilai filosofi dan spiritualitas.

Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu
Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu

Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perkerisan berbasis kompetensi nasional.

“Hari Keris Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem perkerisan berbasis standar kompetensi nasional. Pengembangan budaya digital menjadi kunci untuk memperluas akses edukasi, dokumentasi pengetahuan empu, serta membuka peluang ekonomi kreatif,” ujarnya.

Ia menambahkan, digitalisasi menjadi upaya penting untuk menjangkau generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah arus perkembangan zaman.

Dalam kesempatan yang sama, KRT. Ilham Triadi Nagoro yang dijadwalkan hadir pada pembukaan acara, menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait nilai-nilai yang terkandung dalam keris.

“Keris bukan sekadar benda pusaka, tetapi juga mengandung nilai filosofi, etika, dan sejarah panjang peradaban,” ungkapnya.

Sementara itu, Wahyu Eko Setiawan selaku inisiator kegiatan menyampaikan bahwa kolaborasi lintas komunitas menjadi kunci memperkuat eksistensi budaya perkerisan di era modern.

“Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi antara pelaku budaya, kolektor, akademisi, dan generasi muda. Melalui platform digital, perkerisan Indonesia diharapkan semakin dikenal hingga ke tingkat global,” katanya.

Seluruh prosesi budaya dalam kegiatan ini akan melibatkan pelaku perkerisan yang telah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi melalui LSP Perkerisan Indonesia.

Melalui penyelenggaraan ini, Hari Keris Nasional 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu mendorong penguatan ekosistem perkerisan yang profesional, adaptif, serta berdaya saing di era digital. (Ilham)