Kabupaten Malang, Actanews.id – Upaya percepatan penanganan stunting terus diperkuat melalui kegiatan edukasi yang digelar di Kecamatan Karangploso, Selasa (21/04/2026). Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Malang, H. Rahmat Kartala, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Rahmat menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, serta kurangnya stimulasi psikososial, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Ia menegaskan, kondisi stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar usia berdasarkan acuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun demikian, tidak semua anak bertubuh pendek mengalami stunting.
“Tidak semua anak bertubuh pendek mengalami stunting, tetapi anak stunting pasti bertubuh pendek. Karena itu perlu pemeriksaan medis untuk memastikan kondisinya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rahmat memaparkan sejumlah faktor penyebab stunting, antara lain pola asuh yang kurang tepat, keterbatasan layanan kesehatan bagi ibu dan balita, rendahnya akses terhadap makanan bergizi, serta persoalan air bersih dan sanitasi.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menekan angka stunting. Pemerintah berperan melalui kebijakan, dukungan anggaran, serta penguatan layanan kesehatan seperti Posyandu. Sementara itu, masyarakat diharapkan aktif dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, memantau tumbuh kembang anak, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Peran kader Posyandu juga dinilai sangat penting, terutama dalam deteksi dini stunting melalui pemantauan rutin tinggi dan berat badan balita setiap bulan. Selain itu, kader turut memberikan edukasi kepada ibu hamil dan orang tua terkait pentingnya ASI eksklusif serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat.
Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan dukungan program intervensi gizi spesifik seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita guna memastikan kecukupan asupan protein hewani secara berkelanjutan.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi antara narasumber dan peserta yang terdiri dari kader kesehatan, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Melalui sosialisasi ini, diharapkan kesadaran kolektif masyarakat semakin meningkat sehingga upaya penurunan stunting di tingkat desa dapat berjalan lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan. (XL)
