BANYUWANGI – Keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Kisah inspiratif itu ditunjukkan Suparlan, mahasiswa asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berhasil menyelesaikan pendidikan di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) tahun 2026.
Lahir pada 3 Mei 2005 dan berasal dari Dusun Tereng, Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Suparlan harus meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Banyuwangi untuk menempuh pendidikan.
Ia mengambil Program Studi Manajemen Pariwisata dan mulai kuliah pada 2022. Empat tahun kemudian, perjuangannya membuahkan hasil. Suparlan berhasil menyelesaikan pendidikannya pada 2026.
Di balik keberhasilannya, terdapat kisah perjuangan yang tidak mudah. Suparlan berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Sang ibu tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, sementara ayahnya hanya sempat menempuh pendidikan hingga kelas 5 sekolah dasar.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Suparlan menyerah. Justru keadaan itu menjadi dorongan baginya untuk terus belajar dan membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.
Perjalanan Suparlan juga tidak hanya diisi dengan aktivitas perkuliahan. Untuk memenuhi kebutuhan selama berada di perantauan, ia sembari kuliah bekerja sebagai waitress di salah satu kafe di Banyuwangi.
Ia juga aktif mengembangkan pengalaman dan kemampuan melalui berbagai kegiatan organisasi. Suparlan tercatat pernah bergabung dengan Menwa (Resimen Mahasiswa), HMJ Pariwisata sebagai HRD Sport, serta Forbimwangi sebagai Wakil Ketua Umum. Ia juga menjadi anggota LRPPN (Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba).

Tidak hanya aktif di dalam kampus, pengalaman Suparlan juga bertambah ketika menjalani magang kerja industri di Malaysia, tepatnya di Laguna Redang Island Resort.
Semangatnya semakin lengkap setelah Suparlan mendapat kesempatan sebagai salah satu penerima Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dari pemerintah pusat. Dukungan tersebut menjadi salah satu jalan yang membantunya mewujudkan impian menempuh pendidikan tinggi.
Dalam kesempatan menyampaikan kesan dan pesan pada momentum wisuda, Suparlan menceritakan perjalanan pendidikannya. Kisahnya menjadi pesan tersendiri bagi mahasiswa lain yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan.
Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan biaya, kondisi keluarga, maupun keharusan merantau bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
Perjalanan dari Lombok Timur menuju Banyuwangi menjadi bagian penting dalam hidupnya. Di tanah rantau, ia belajar, berorganisasi, bekerja, membangun jaringan, sekaligus menyelesaikan pendidikan.

Kisah Suparlan menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari keadaan yang serba mudah. Dengan kemauan belajar, kerja keras, keberanian merantau, serta dukungan yang tepat, seseorang dari keluarga sederhana pun dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, kisah Suparlan menyampaikan satu pesan sederhana: teruslah belajar, berusaha, jangan mudah menyerah, dan berani memperjuangkan impian.
Sebab, keterbatasan mungkin menjadi bagian dari perjalanan, tetapi bukan berarti harus menjadi batas untuk mencapai cita-cita.(Mahmudah, Minggu 27/9/2016))
