Pergunu Banyuwangi Siapkan Lomba Cerita Sejarah Islam untuk Pelajar MTs/SMP, Perkuat Literasi dan Karakter Generasi Muda

Banyuwangi – Menyambut tahun ajaran baru 2026–2027, Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Banyuwangi berencana menggelar Lomba Cerita Sejarah Islam tingkat MTs dan SMP. Kegiatan tersebut mulai dimatangkan melalui rapat panitia yang berlangsung di Pondok Pesantren Subulussalam Panderejo, Banyuwangi, Jumat (12/6/2026).

Ketua PC Pergunu Banyuwangi, H. Wijanarko, menegaskan dukungannya agar program tersebut dapat segera direalisasikan secara optimal. Menurutnya, lomba ini menjadi sarana strategis untuk mendorong prestasi pelajar sekaligus memperkuat wawasan keislaman melalui pemahaman sejarah Islam.

“Lomba ini penting untuk memberikan ruang kepada pelajar agar memiliki keberanian tampil, kemampuan bertutur, serta memperluas pengetahuan mereka tentang perjalanan sejarah Islam. Harapannya, siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memahami nilai-nilai perjuangan dan keteladanan dalam sejarah Islam,” ujarnya saat rapat panitia.

Sementara itu, Ketua Panitia, H. Wawuh Purnomo, yang juga merupakan guru SMKN 1 Kalipuro, menjelaskan bahwa lomba tersebut dirancang sebagai wadah pengembangan kemampuan peserta didik dalam menyampaikan kisah sejarah Islam secara komunikatif, menarik, dan edukatif.

Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, pemahaman sejarah Islam di kalangan pelajar perlu terus diperkuat agar generasi muda tidak kehilangan akar pengetahuan dan identitas keislamannya.

“Lomba ini tidak sekadar kompetisi, tetapi juga upaya memasyarakatkan kembali pengetahuan sejarah Islam di kalangan pelajar. Kami ingin siswa mengenal tokoh-tokoh Islam, peradaban, perjuangan dakwah, hingga nilai-nilai moral yang bisa dipetik dari perjalanan sejarah tersebut,” jelasnya.

Panitia berharap kegiatan ini mampu menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus efektif dalam meningkatkan minat pelajar terhadap literasi sejarah Islam. Selain melatih kemampuan berbicara di depan umum, peserta juga didorong untuk memahami dan menghayati setiap kisah sejarah yang disampaikan.

Dalam rapat tersebut, panitia mulai membahas berbagai aspek teknis pelaksanaan, mulai dari mekanisme pendaftaran, kategori penilaian, hingga peserta yang akan melibatkan siswa MTs dan SMP dari berbagai wilayah di Banyuwangi.