Foto : Bupati Banyuwanngi, Ipuk Fiestiandani (tengah)
Banyuwangi, Actanews.id – Patoman Tengah atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Dusun Balian telah menjadi salah satu wajah toleransi dan kekuatan budaya di Banyuwangi. Berada di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, dusun ini mayoritas dihuni umat Hindu dan dikenal sebagai Kampung Pancasila karena kehidupan warganya yang rukun serta saling membantu antarumat beragama.
Suasana Dusun Balian pun menghadirkan nuansa khas Pulau Bali. Deretan rumah penduduk dengan arsitektur tradisional Bali berpadu dengan keberadaan pura yang berdiri megah di tengah permukiman warga. Keharmonisan sosial di dusun ini telah terjaga sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Selama ini tidak pernah ada masalah. Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” ujar Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana saat mendampingi Bupati Banyuwangi dalam agenda Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), 7 Mei 2026 lalu.
Di Dusun Balian, terdapat Pura Desa yang tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas seni dan budaya masyarakat. Anak-anak hingga remaja rutin belajar agama, tari tradisional, gamelan, serta berbagai kesenian daerah lainnya.
Keberadaan pusat budaya tersebut menjadi ruang penting dalam menjaga tradisi lokal sekaligus mengembangkan kreativitas generasi muda Banyuwangi agar tetap mencintai budaya leluhur.
Tak hanya kuat di sektor budaya, Dusun Balian juga tumbuh sebagai sentra ekonomi kreatif. Salah satu pelaku UMKM yang menonjol adalah Kayan Suartana, perajin seni ukir kayu dan pasir yang telah berkarya sejak tahun 2000.
Selain aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional, Kayan dikenal konsisten melestarikan budaya melalui karya seni ukirnya. Dedikasinya itu membuat dirinya menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada tahun 2015.
Kini, usaha miliknya berkembang pesat dengan memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu dan pasir pantai, mulai dari ornamen rumah hingga patung artistik. Produk-produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Bali, Nganjuk, hingga Jawa Tengah.
Potensi ekonomi Dusun Balian juga diperkuat dari sektor pertanian. Warga mulai mengembangkan budidaya Cabe Jawa atau Cabe Puyang yang memiliki nilai jual tinggi di pasar.
Salah satu petani, Made Ardana, mengelola tanaman Cabe Jawa di lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi dengan sekitar seribu pohon.
“Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” ujarnya.
Menurut Made, satu kilogram Cabe Jawa basah dapat menghasilkan sekitar tiga ons setelah dikeringkan, dengan harga jual mencapai Rp85 ribu per kilogram. Tingginya permintaan pasar membuat hasil panen warga bahkan telah dipasarkan hingga Jepang dan China untuk kebutuhan industri kosmetik.
Dengan kekuatan toleransi, seni budaya, serta ekonomi kreatif yang terus berkembang, Dusun Balian menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat tumbuh berdampingan dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. (*)
