Gas Melon Langka di Sempu Banyuwangi, Warga Keliling Desa Cari Elpiji 3 Kg

Banyuwangi,  Actanews.id  – Warga Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, mengeluhkan kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon. Dalam dua hari terakhir, masyarakat kesulitan mendapatkan tabung gas tersebut di sejumlah desa, meskipun pemerintah sebelumnya menyatakan stok dalam kondisi aman.

Kelangkaan ini dirasakan warga di beberapa wilayah seperti Desa Gendoh, Temuguruh, hingga daerah perbatasan Genteng. Banyak pengecer dilaporkan kehabisan stok, bahkan sebagian mengaku gas yang tersedia sudah dipesan oleh pelanggan lain.

Salah satu warga, Mamazi, mengaku telah berkeliling mencari gas melon selama dua hari namun tidak berhasil menemukannya. Karena kebutuhan memasak mendesak, ia akhirnya terpaksa membeli gas non-subsidi yang harganya lebih mahal.
“Sudah dua hari muter dari Genteng sampai Sempu, gas melon kosong semua. Akhirnya beli tabung pink daripada tidak bisa masak,” keluhnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Putri, warga lainnya yang mengaku mencari gas hingga ke beberapa desa seperti Gendoh, Tanah Miring, Karangsari, dan Karanganyar, namun hasilnya tetap nihil.
“Ada satu toko yang punya, tapi katanya sudah pesanan orang. Bingung kalau besok gas benar-benar habis, padahal buat jualan,” ujarnya.

Kondisi ini membuat masyarakat khawatir, terutama pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada elpiji 3 kilogram untuk kegiatan usaha sehari-hari.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebelumnya memastikan stok elpiji 3 kilogram dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri. Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan Pertamina bahkan siap menambah pasokan hingga 250 persen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Menurut data Pertamina, kuota normal elpiji 3 kilogram di Banyuwangi mencapai sekitar 63.500 tabung per hari, dan akan ditambah untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Lebaran.

Meski demikian, kondisi di lapangan masih menimbulkan tanda tanya. Sejumlah warga menduga adanya praktik penimbunan atau permainan distribusi di tingkat pengecer.
Salah satu warga, Tohari, menilai ada kejanggalan karena gas disebut tersedia di pangkalan, namun sulit ditemukan di tingkat pengecer.
“Stok katanya aman, tapi di lapangan kosong. Kemungkinan ada yang menimbun, lalu dikeluarkan beberapa hari kemudian dengan harga di atas HET,” ujarnya.
Saat ini, Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram di Banyuwangi ditetapkan sebesar Rp18.000 per tabung.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum dapat meningkatkan pengawasan distribusi hingga ke tingkat pangkalan dan pengecer. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah adanya oknum yang memanfaatkan situasi dengan menimbun gas atau menjualnya di atas harga yang telah ditetapkan.

Jika tidak segera ditangani, warga khawatir kelangkaan gas melon akan semakin meluas dan berdampak pada aktivitas rumah tangga maupun usaha kecil di Banyuwangi. (*)