Foto : Gubernur Jawa Timur Khofifah bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo saat rapat koordinasi penanganan Karhutla
Pasuruan,Actanews.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat menggelar salat istisqa sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan di tengah kondisi kekeringan dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ajakan tersebut dituangkan dalam surat edaran (SE) yang telah ditandatangani Khofifah. Surat itu ditujukan kepada pondok pesantren, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta para pimpinan organisasi Islam di Jawa Timur.
Khofifah berharap pelaksanaan salat istisqa dapat dilakukan secara masif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Melalui ikhtiar bersama tersebut, ia berharap hujan segera turun dengan membawa manfaat dan rahmat bagi masyarakat serta lingkungan.
“Mohon ke pesantren, Dewan Masjid, dan semua ormas keagamaan untuk menggelar salat istisqa dan berdoa agar diturunkan hujan yang bermanfaat, hujan yang membawa rahmat,” ujar Khofifah.
Ajakan itu disampaikan Khofifah seusai memimpin rapat terbatas bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo dan sejumlah pemangku kepentingan di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Selasa (20/10/2026) malam.
Rapat tersebut membahas penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, termasuk wilayah Hutan Cempaka.
Menurut Khofifah, upaya antisipasi dan mitigasi harus segera diperkuat karena musim hujan diperkirakan datang lebih lambat pada tahun ini. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikannya, hujan diperkirakan turun pada periode Desember hingga Februari.
Sementara itu, periode musim hujan pada tahun berikutnya diprediksi berlangsung lebih singkat. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kekeringan yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di kawasan hutan.
Karena itu, Khofifah menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemadaman. Langkah pencegahan juga harus dilakukan secara terencana melalui koordinasi lintas instansi dan keterlibatan seluruh pihak terkait.
Ia meminta agar rekomendasi Balai Penegakan Hukum (Gakkum) dijadikan pedoman bersama dalam menyusun langkah mitigasi, baik untuk menangani dampak kebakaran yang terjadi maupun mencegah kejadian serupa terulang.
“Apa yang menjadi rekomendasi Balai Gakkum harus menjadi mitigasi bersama,” tegasnya.
Khofifah berharap pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait dapat menindaklanjuti rekomendasi tersebut sesuai dengan kewenangan masing-masing. Dengan demikian, upaya penanganan karhutla dapat berjalan lebih terarah dan terpadu.
Melalui ajakan salat istisqa serta penguatan langkah mitigasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap upaya menghadapi kekeringan dan ancaman karhutla dapat dilakukan secara bersama-sama, demi melindungi kelestarian hutan dan keselamatan masyarakat.(Tya)
