opini  

Ibu, Ijinkan Aku Menciummu

Ponselku bergetar. Di layar, panggilan video masuk—seperti biasa, dari Ibu. Sosok yang tak pernah bosan menanyakan kabarku, memastikan aku baik-baik saja. Ah, Ibu… betapa panjang perjalanan cerita yang telah kita lalui bersama.

Kini usianya menginjak 70 tahun. Namun, perhatian dan kasih sayangnya tak pernah berkurang, bahkan sedikit pun.
Kami hidup sederhana bertiga: aku, Ibu, dan adik laki-lakiku. Kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak. Suatu sore saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar, Ibu menyuruh kami membeli beras. Hujan deras turun tiba-tiba. Kami justru kegirangan, bermain di bawah hujan tanpa peduli. Hingga akhirnya kami terjatuh, dan beras yang kami bawa hanyut terbawa arus air.

Kami pulang dengan tangan kosong, penuh rasa takut. Namun Ibu hanya tersenyum lembut dan berkata,
“Ndak popo le… sing penting awakmu wong loro rukun.”
(Tidak apa-apa, yang penting kalian berdua rukun.)
Sederhana, tetapi hangatnya terasa hingga kini.
Ada pula tetangga yang kerap memberi makanan atau buah yang sudah tak segar. Meski tahu keadaannya, Ibu selalu menerimanya dengan penuh keikhlasan. Setelah itu, ia berpesan,
“Kalau nanti kamu memberi sesuatu kepada orang lain, berikan yang terbaik.”
Nasihat sederhana itu kini menjadi prinsip hidup yang tak tergantikan.

Perjuangan Ibu terasa begitu nyata, seperti lirik lagu yang sering kudengar: tentang seorang ibu yang menempuh ribuan jalan demi anaknya. Ibu berkeliling menjajakan kue, tak pernah mengeluh, demi dua anak laki-lakinya. Cinta seorang ibu memang tak berbatas, sementara cinta anak seringkali terukur oleh waktu dan keadaan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk membalasnya?
Jawabannya mungkin: tidak pernah cukup.

Dalam kisah sahabat Nabi, Huwaish al Qorni, rasa cintanya pada ibunya begitu besar hingga ia rela ingin menggendong sang Ibu untuk beribadah haji. Bahkan, seorang pemuda yang ingin ikut berperang bersama Rasulullah dilarang karena harus merawat ibunya yang sudah renta. “Rawat dan layani ibumu,” begitu tegas perintah Rasul.

Allah juga mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang kesulitan yang dihadapi seorang ibu saat mengandung dan menyusui. Dalam QS. Lukman: 14 dan QS. Al-Ahqaf: 15, Allah menekankan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu.

Namun, apa yang kita lakukan? Seringkali, kata-kata dengan nada tinggi tanpa sadar terlontar dari mulut kita. “Uf,” “ah,” atau bahkan kadang sikap acuh terhadap Ibu. Kita tidak pernah menyadari air mata yang jatuh di pipi Ibu kala ia berdoa untuk kita di tengah malam. Bibirnya tak henti mengucap doa agar kita menjadi anak yang sukses dan bahagia.

Tapi, apa balasan kita? Waktu kita habis untuk pekerjaan, keluarga, hobi dan kesibukan lainnya. Kadang seharian, kita tidak sempatkan untuk menanyakan kabarnya, meskipun ponsel tak pernah lepas dari genggaman. Seringkali kita sombong, merasa sudah tidak membutuhkannya. Kita lupa, Ibu telah mengorbankan segalanya tanpa pamrih.

Padahal, semua cobaan hidup yang kita hadapi, sesungguhnya pernah dilalui oleh Ibu, dan dia berhasil melewatinya dengan kekuatan yang luar biasa. Namun, kita yang terlalu lemah dan sering mengeluh, memandang sebelah mata pada sosok renta yang sebenarnya memiliki kekuatan hebat.

Sesungguhnya, Ibu hanya ingin melihat kita bahagia, meskipun kebahagiaannya mungkin tidak seberapa. Harusnya kita selalu menyadari betapa kita membutuhkan Ibu. Untuk sekadar menatap wajahnya yang teduh, membelai tangannya yang keriput, menciumi kakinya, dan meminta doanya.

“Dengan apa kita bisa membalas semua ini, Ibu?”

Mungkin, jawabannya adalah kita tak pernah bisa. Tapi setidaknya, kita masih punya kesempatan untuk mencium kakinya, memohon maaf, dan berterima kasih atas semua yang telah beliau lakukan untuk kita.

Oleh : Joko Wiyono, Banyuwangi, 5/09/2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *