banner 728x250

Ketum PW FRN Didatangi Harimau Coklat dalam Mimpi Usai Ziarah, Dianggap Pertanda Alam Sedang Murka

Jakarta, Actanews.id   — Usai melakukan kunjungan dan ziarah ke makam tokoh-tokoh besar Kesultanan Demak, seperti Sultan Trenggono, Raden Patah, dan Adipati Yunus (Pangeran Sabrang Lor), Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon (PW FRN) R. Mas MH Agus Rugiarto SH, mengalami mimpi tak biasa. Dalam tidurnya, ia mengaku didatangi seekor harimau coklat gaib, yang menurutnya merupakan isyarat bahwa alam tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Dalam penuturannya kepada media pada Sabtu (24/5), pria yang akrab disapa Agus Flores ini menyebut mimpi tersebut sebagai teguran besar. Berdasarkan penelusurannya melalui situs pencarian Google, mimpi harimau coklat dikaitkan dengan pesan alam gaib yang memperingatkan tentang kerusakan lingkungan dan tindakan manusia yang merusak keseimbangan semesta.

“Adanya harimau gaib diyakini sebagai pesan bahwa ada kesalahan besar yang telah dilakukan, baik terhadap lingkungan, manusia, maupun hal-hal bersifat gaib. Ini bisa berupa tindakan merusak alam, pelanggaran norma, atau perbuatan yang merugikan orang lain,” ujar Agus, mengutip salah satu penafsiran mimpi.

Ia juga menyinggung aktivitas perusakan lingkungan seperti pembabatan hutan, penambangan ilegal, dan pengeboran minyak tanpa izin sebagai bentuk keserakahan manusia yang bisa memicu kemarahan “raja hutan”.

“Saya hanya menyarankan, bagi manusia yang suka merusak alam, agar segera mengubah sikap. Kalau mau dengar, silakan. Kalau tidak juga tidak apa-apa,” ungkapnya.

Agus mengaku bukan kali ini saja mendapat “tanda-tanda” dari alam. Ia menyebut pernah mengalami mimpi serupa sebelum bencana besar terjadi, seperti tsunami Aceh, gempa Sulawesi Tengah, dan bencana lain yang menurutnya kerap diawali dengan pertanda batin atau mimpi-mimpi ganjil.

“Mungkin saya hanya fasilitator untuk menyampaikan. Mau diikuti atau tidak, terserah,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai solusi atas kerusakan alam dan potensi bencana, Agus hanya menekankan pentingnya kesadaran spiritual dan kembali patuh kepada Sang Pencipta.

“Solusinya hanya satu: kembali ke Allah SWT. Kita ini ciptaan-Nya. Kalau sudah diberikan sanksi berupa bencana, yang tidak bersalah pun bisa jadi korban. Itu yang membuat saya sedih,” katanya.

Sebagai penutup, Agus kembali mengingatkan agar manusia tak menantang alam.

“Masih mending Tuhan masih mau mengingatkan lewat mimpi. Kalau Tuhan sudah tidak bicara lagi, bisa jadi bencananya jauh lebih besar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *