BANYUWANGI – Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan (Panji Blambangan) menggelar acara Syukuran Memperingati 20 Tahun Keris Diakui UNESCO pada Selasa (25/11/2025). Kegiatan berlangsung di Basecamp Panji Blambangan, Jalan Ahmad Yani 67 Banyuwangi, diikuti para budayawan, seniman, komunitas pecinta keris, hingga generasi Gen Z yang mulai menunjukkan minat pada budaya pusaka Nusantara.
Acara ini digelar untuk memperingati dua dekade penetapan keris sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO pada 2005. Suasana hangat terasa ketika para tokoh budaya dan peserta berbagi pandangan mengenai pentingnya pelestarian keris di era modern.
Dalam sambutannya, KRT. Ilham Triadinagoro menegaskan bahwa keris bukan sekadar pusaka, tetapi bukti bahwa peradaban Nusantara telah memiliki pengetahuan tinggi sejak masa lampau.
“Proses penempaan keris sangat kompleks, mulai dari pengolahan besi hingga racikan berbagai logam lain dengan keahlian luar biasa. Dari proses itu lahir seni pamor yang indah, bukti bahwa bangsa kita sudah maju sejak dahulu,” ujar Ilham.
Ia juga menjelaskan bahwa ilmu metalurgi yang dikuasai para empu merupakan cabang pengetahuan tingkat tinggi yang menunjukkan kecerdasan dan kreativitas leluhur Nusantara.
Lebih jauh, Ilham menekankan bahwa budaya, termasuk dunia perkerisan, dapat menjadi sumber ekonomi kreatif yang mendorong daya saing Indonesia di kancah global.
SNKI: Pelestarian Keris Harus Libatkan Generasi Muda
Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) turut memberikan pandangan melalui pernyataan resmi yang disampaikan Fadli Zon, salah satu tokoh yang aktif mendorong pelestarian warisan budaya.
“Penetapan ini bukan hanya peringatan simbolik, tapi langkah penting untuk menghidupkan kembali makna keris yang kaya nilai historis, artistik, dan spiritual,” ujar Fadli.
Menurutnya, keris adalah simbol kebijaksanaan dan filosofi hidup masyarakat Nusantara, bukan sekadar senjata tradisional. Karena itu, generasi muda harus mendapatkan akses edukasi budaya yang relevan dengan zaman.
Ia mendorong pemanfaatan media digital—mulai dari podcast, dokumenter, diskusi daring, hingga pameran virtual—agar literasi budaya dapat menjangkau lebih banyak anak muda.
Fadli juga menyoroti peran keris dalam diplomasi budaya, mencontohkan Presiden Prabowo Subianto yang beberapa kali menghadiahkan keris kepada pemimpin dunia sebagai simbol kehormatan dan identitas bangsa.
“Kekayaan budaya kita bukan hanya untuk dikenang, tapi juga untuk diperkenalkan ke dunia. Wayang, batik, tari, dan keris adalah aset kebudayaan yang bisa menjadi kekuatan diplomatik dan ekonomi,” tegasnya.
Bangkitkan Kebanggaan Budaya Lokal
Peringatan 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO ini tidak hanya menjadi momentum syukur, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur. Kehadiran generasi Gen Z dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa minat terhadap budaya tradisional masih kuat jika dikemas secara modern dan edukatif.

Panji Blambangan berharap kegiatan seperti ini dapat terus digaungkan dan menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisi dengan perkembangan zaman, sekaligus memperkokoh jati diri budaya Banyuwangi dan Indonesia di mata dunia.
