Actanews.id – Sebanyak lima Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Banyuwangi turut berkontribusi dalam acara Bedah Buku Hebat Bersama Umat yang berlangsung pada Selasa, (17 /12), di Hotel Tanjung Asri, Banyuwangi. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi penulis dalam antologi puisi bertema kebersamaan, literasi, dan pembangunan peradaban.
Kelima kepala madrasah tersebut adalah Uswatun Hasanah (MTsN 2 Banyuwangi), Mujikan (MTsN 4 Banyuwangi), Sugeng Maryono (MTsN 10 Banyuwangi), Rosid Tamami (MTsN 11 Banyuwangi), dan Herny Nilawati (MTsN 12 Banyuwangi). Buku ini disusun bersama penulis lain untuk menggugah semangat literasi di kalangan masyarakat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi atas inisiatif ini. “Semakin tinggi tingkat literasi masyarakat, semakin tinggi pula peradaban mereka. Acara ini membuktikan bahwa literasi adalah bagian dari pembangunan karakter bangsa,” ujar Dr. Chaironi dalam sambutannya.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi dan dihadiri tokoh-tokoh penting, di antaranya Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Belambangan), Samsudin Adlawi (Direktur Radar Banyuwangi), Zen Kostolani (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan), dan Dr. Nur Anim Jauhariyah (UIMSYA). Para seniman, akademisi, dan komunitas literasi seperti Killing Osing Blambangan juga turut memeriahkan acara.

Dalam diskusi, Hasan Basri menegaskan pentingnya menjadikan literasi sebagai budaya. “Budaya literasi adalah pondasi peradaban. Banyuwangi akan maju jika masyarakatnya cinta membaca dan menulis,” katanya.
Samsudin Adlawi juga memuji langkah para kepala madrasah. “Mereka membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter melalui literasi,” ujarnya.
Para kepala madrasah berbagi pandangan tentang pentingnya literasi. Uswatun Hasanah menekankan bahwa menulis adalah cara mengabadikan nilai-nilai pendidikan. “Lewat tulisan, kita tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga membangun hubungan antara dunia pendidikan dan masyarakat,” ungkapnya.
Mujikan menyebut antologi ini sebagai medium menyampaikan pesan moral. “Buku ini membuktikan bahwa pendidikan dan seni dapat bersinergi untuk dampak positif,” tuturnya.
Sugeng Maryono menambahkan, “Kami ingin memberi contoh kepada generasi muda bahwa menulis itu penting dan bisa dilakukan oleh siapa saja.”
Sebagai bentuk apresiasi, setiap peserta mendapat satu eksemplar buku Hebat Bersama Umat. Buku ini diharapkan menjadi inspirasi dan referensi literasi di berbagai kalangan.
Dr. Nur Anim Jauhariyah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memajukan literasi. “Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar peluang menciptakan perubahan,” ujarnya.
Acara bedah buku ini menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya literasi di Banyuwangi, menunjukkan bahwa daerah ini tidak hanya kaya budaya dan alam, tetapi juga memiliki potensi besar dalam memajukan literasi.