Rubaiyat Hormuz :Dari Banyuwangi untuk Dunia, Puisi Damai Disuarakan

BANYUWANGI – Hening yang penuh makna menyelimuti Langgar Art, Banyuwangi, Selasa (14/4/2026). Di ruang sederhana itu, puluhan pegiat seni dan masyarakat berkumpul dalam sebuah perhelatan sastra bertajuk “Rubaiyat Hormuz: Lantunan Puisi Kemanusiaan dari Bumi Blambangan”.

Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian komunitas sastra Banyuwangi terhadap konflik di kawasan Selat Hormuz yang berdampak luas bagi dunia. Digagas oleh MWC-NU Kecamatan Banyuwangi bersama sejumlah komunitas, acara ini menghadirkan kolaborasi lintas elemen dalam satu panggung kemanusiaan.

Sejumlah tokoh seni dan budaya tampil membacakan puisi, menghadirkan suasana reflektif yang menyentuh. Kehadiran berbagai kalangan, mulai dari akademisi, komunitas perempuan, hingga tokoh lintas agama, menegaskan bahwa pesan damai melampaui batas identitas.

Tak hanya seniman, perwakilan lembaga keagamaan dan masyarakat umum juga turut ambil bagian. Mereka menyuarakan harapan yang sama: dunia yang lebih damai dan terbebas dari konflik berkepanjangan.

Dalam puisinya, para peserta menggambarkan kecemasan global akibat konflik di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi internasional. Namun di balik itu, terselip harapan tentang perdamaian dan keadilan.

Melalui lantunan kata yang sederhana namun penuh makna, Rubaiyat Hormuz menjadi lebih dari sekadar acara sastra. Ia menjelma sebagai suara dari Banyuwangi untuk dunia—sebuah pengingat bahwa di tengah riuh konflik, harapan akan damai harus terus digaungkan. (Syaf)