Banyuwangi, Actanews.id – Proyek revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi, dengan nilai kontrak Rp.152 miliar kembali mendapat perhatian serius. Andi Purnama, S.H., S.T., M.M., seorang praktisi di Banyuwangi menilai ada beberapa aspek dalam pelaksanaan proyek yang menunjukkan indikasi potensi masalah. Dalam pengamatannya, Andi menyoroti lambatnya produktivitas pekerjaan, buruknya manajemen konstruksi, dan minimnya kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja (K3).
Menurut Andi, dengan capaian fisik proyek hingga kini yang mencapai sekitar 20 persen, ada potensi kendala dalam penyelesaian tepat waktu. Beberapa bagian proyek yang menggunakan metode prefabrikasi, yang seharusnya bisa mempercepat progres, justru terkesan berjalan lambat. “Progres pekerjaan seharusnya bisa lebih cepat, namun di lapangan justru terkesan lambat,” ungkap Andi, Jumat (07/03/25).
Lebih lanjut, Andi juga mengkritik manajemen proyek oleh kontraktor PT Lince Romauli Raya. Kondisi lapangan yang tidak tertata, besi rangka yang berkarat, serta puing-puing yang berserakan menambah potensi kecelakaan kerja. Andi menyebutkan, “Manajemen proyek terlihat abai terhadap standar keselamatan kerja dan jauh dari profesionalisme.”

Proyek strategis dengan nilai anggaran besar ini, menurut Andi, seharusnya menjadi simbol keberhasilan manajemen konstruksi yang profesional. Namun, berbagai temuan ini menimbulkan kekhawatiran akan kualitas rendah atau bahkan kegagalan proyek. (Tim KJJT)
