Pendopo Pate Alos Diresmikan Fadli Zon, Tonggak Awal Wisata Kota Tua Besuki Berbasis Cagar Budaya

Situbondo, ACTANEWS.ID –  Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon meresmikan Pendopo Pate Alos di Kecamatan Besuki, Minggu (25/1/2026), sebagai simbol awal pengembangan Wisata Kota Tua Besuki berbasis cagar budaya.

Peresmian Pendopo Pate Alos menandai komitmen Pemerintah Kabupaten Situbondo dalam merevitalisasi kawasan bersejarah Besuki sekaligus memperkuat identitas daerah melalui pelestarian warisan budaya. Pendopo ini dinamai Pate Alos sebagai bentuk penghormatan terhadap Kiai Pate Alos atau Raden Bagus Kasim Wirodipuro, Patih pertama Besuki pada abad ke-18 yang dikenal sebagai tokoh pembuka wilayah Besuki.

Revitalisasi Pendopo Pate Alos tidak hanya didasarkan pada nilai historisnya, tetapi juga ditujukan untuk meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat Kecamatan Besuki dan sekitarnya. Prosesi peresmian dilakukan secara sederhana dan penuh kekhidmatan, mengingat masyarakat Besuki Raya tengah dilanda duka akibat bencana banjir yang melanda enam kecamatan, yakni Besuki, Banyuglugur, Jatibanteng, Mlandingan, Kendit, dan Bungatan. Hingga hari peresmian, sejumlah wilayah dilaporkan masih terisolasi.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, seluruh rangkaian kegiatan dikemas sarat doa dan refleksi kebudayaan sebagai wujud empati kepada para korban sekaligus harapan agar bencana serupa tidak terulang.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menegaskan bahwa pendekatan kebudayaan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan sosial masyarakat, terutama di tengah situasi bencana.
“Di tengah situasi sulit seperti ini, penguatan nilai sejarah, budaya, dan spiritual menjadi bagian penting untuk membangun daya tahan sosial masyarakat,” ujarnya.

Bupati yang akrab disapa Mas Rio tersebut menambahkan, revitalisasi Pendopo Pate Alos menjadi titik awal pengembangan Wisata Kota Tua Besuki dengan pendekatan pelestarian sejarah, edukasi budaya, serta penguatan ekonomi masyarakat.
“Peresmian ini bukan perayaan, melainkan ikhtiar bersama untuk bangkit, menjaga warisan sejarah, dan menata masa depan Besuki dengan tetap menghormati nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Situbondo memastikan bahwa seluruh agenda kebudayaan ke depan akan dilaksanakan secara sensitif terhadap kondisi masyarakat, dengan menempatkan empati, doa, dan pemulihan sebagai prioritas utama.

Pada sore harinya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Bupati Situbondo meninjau Gedung Eks Karesidenan Besuki, bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1805. Gedung tersebut memiliki nilai strategis dalam sejarah kawasan Tapal Kuda, mengingat Besuki pernah menjadi pusat administrasi yang menaungi lima kabupaten.

Fadli Zon menilai bangunan yang kini berusia lebih dari 220 tahun tersebut sangat layak dikembangkan menjadi museum dan pusat kebudayaan.
“Kalau kita lihat secara fisik, bangunan ini sangat layak menjadi suatu museum,” ujarnya.

Menurut Fadli, museum tersebut dapat menyajikan narasi sejarah Karesidenan Besuki secara utuh, mulai dari peran administratif, sosial, hingga dinamika politik masa lalu, serta keberlanjutannya hingga saat ini.

Lebih lanjut, ia menilai Gedung Eks Karesidenan Besuki memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kebudayaan yang hidup, tidak sekadar bangunan statis.
“Ini bisa menjadi pusat budaya, pusat edukasi, pusat belajar, bahkan pusat kegiatan seni di Situbondo,” ungkapnya.
Fadli Zon juga menegaskan bahwa tingkat keaslian bangunan masih sangat terjaga, baik dari struktur ruang, tinggi bangunan, maupun atmosfer heritage yang kuat.
“Keasliannya masih ada, auranya masih kelihatan sebagai bangunan heritage,” tegasnya.

Selain itu, ia membuka peluang agar Gedung Eks Karesidenan Besuki dapat ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional, sehingga pengelolaan dan pengembangannya dapat dilakukan secara lebih optimal sesuai amanat konstitusi.
“Kalau menjadi cagar budaya nasional, tentu bisa kita manfaatkan dan kembangkan sesuai amanat UUD,” pungkasnya. (ILHAM)