BANYUWANGI, Actanews.id – Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW FRN) DPC Banyuwangi bersama SMPN 1 Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi menggelar edukasi jurnalistik bagi para siswa pada Sabtu (29/11/ 2025). Bertempat di 2 ruang kelas VII A, F, kegiatan yang diikuti ratusan murid ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme.
Program literasi ini bertujuan mengenalkan dasar–dasar dunia media sejak dini, mulai dari cara kerja jurnalis, proses produksi berita, hingga kemampuan mendeteksi informasi hoaks yang kian marak di era digital.
PLT Kepala SMPN 1 Rogojampi, Puspito Rini, S.Pd, turut hadir dan memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi jurnalistik merupakan langkah penting untuk meningkatkan kecerdasan literasi siswa.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena membantu siswa berpikir kritis dan lebih selektif dalam menerima informasi. Ini sangat penting di tengah tantangan era digital,” ujarnya.
Kegiatan juga dihadiri jajaran pengurus PW FRN DPC Banyuwangi, antara lain Ketua PW FRN Banyuwangi Agus Samiaji, Ketua Harian Hadi Sucipto (Buang), Sekretaris Marta Yofi Winatha, Bendahara Idham Holid, serta Koko. Selain itu, Divisi Hukum PW FRN Banyuwangi, Joko Wiyono, menjadi pemateri utama dalam sesi pelatihan.
Dalam materinya, Joko Wiyono menekankan pentingnya literasi media sebagai bekal generasi muda menghadapi derasnya arus informasi.
“Anak-anak harus tahu bagaimana berita itu dibuat. Ada proses, verifikasi, dan etika. Di era sekarang siapa pun bisa membuat informasi, tetapi tidak semuanya benar. Karena itu, kalian harus mampu membedakan mana berita valid dan mana berita hoaks,” jelasnya.
Joko juga memberikan praktik langsung teknik dasar penulisan berita, mulai dari menentukan angle, menyusun lead, hingga merangkai informasi sesuai kaidah 5W+1H. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan, bahkan beberapa di antaranya mencoba membuat berita singkat sebagai latihan.
Ketua PW FRN DPC Banyuwangi, Agus Samiaji, menegaskan komitmen FRN untuk tidak hanya menjalankan tugas jurnalistik, tetapi juga berperan dalam edukasi publik.
“Literasi informasi adalah benteng utama generasi muda. Kami hadir untuk memastikan siswa memahami cara kerja media agar tidak mudah terpengaruh berita bohong,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Para siswa terlihat antusias mengajukan berbagai pertanyaan seputar proses peliputan, penentuan kelayakan berita, hingga cara jurnalis menghindari pelanggaran kode etik. (Tim FRN)














