Panen Raya SAE Paswangi, Bukti Inovasi Lapas Banyuwangi dalam Ketahanan Pangan

BANYUWANGI, Actanews.id. — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi kembali menunjukkan kiprahnya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui panen raya padi dan sayuran di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi, Senin (16/3/2026).

Kegiatan ini menjadi bukti nyata keberhasilan program pembinaan warga binaan yang tidak hanya berfokus pada aspek pembinaan mental, tetapi juga keterampilan produktif. Panen raya tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, bersama jajaran Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Korwil Jember. Hadir pula Ketua Umum Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) Jawa Timur beserta anggota.

Dalam panen kali ini, Lapas Banyuwangi mencatat keberhasilan kedua dalam budidaya padi di lahan SAE Paswangi dengan estimasi hasil mencapai 1,5 ton gabah. Selain itu, panen juga dilakukan pada komoditas sayuran seperti buncis dan kacang panjang dengan total hasil diperkirakan mencapai 5 kuintal.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono

Kadiyono memberikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan Lapas Banyuwangi dalam mengelola lahan SAE Paswangi secara produktif dan variatif.
“Kami sangat mengapresiasi pengembangan SAE Paswangi yang tidak hanya berfokus pada satu komoditas. Keberagaman pertanian dan perikanan yang dikembangkan menunjukkan pembinaan berjalan dinamis dan inovatif,” ujarnya.

Ia juga berharap hasil panen tersebut tidak hanya dimanfaatkan secara internal, tetapi dapat disalurkan kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk kepedulian sosial.
“Hal ini menjadi bukti bahwa pemasyarakatan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Kalapas Banyuwangi,  I Wayan Nurasta Wibawa
Kalapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa

Sementara itu, Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menegaskan bahwa SAE Paswangi dirancang sebagai pusat pembelajaran bagi warga binaan.
“Kami menjadikan SAE Paswangi sebagai sekolah lapangan. Komoditas yang dikembangkan dilakukan secara bergantian agar warga binaan memiliki pengetahuan pertanian yang luas. Ini bukan hanya pembinaan, tetapi juga kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan,” jelasnya.
Ke depan, SAE Paswangi tidak hanya difokuskan sebagai sarana asimilasi internal, tetapi juga diproyeksikan menjadi destinasi edukasi bagi masyarakat umum yang ingin belajar tentang kemandirian pangan.

Pengembangan kawasan ini pun akan terus berlanjut. Selain sektor pertanian dan perikanan yang telah berjalan, Lapas Banyuwangi berencana mengembangkan sektor peternakan, seperti ayam dan bebek, guna melengkapi ekosistem produktivitas di lahan tersebut. (*)