Hadrah dari SMPN 2 Rogojampi Meriahkan Festival Memengan 2024

Banyuwangi, Actanews.id – Suasana meriah dan penuh semangat terlihat di Lapangan Lugjag, Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (27/7/2024), saat seni hadrah dari SMPN 2 Rogojampi tampil memukau dalam Festival Memengan 2024 Acara ini tidak hanya dihadiri oleh Bupati Ipuk Fiestiandani, didampingi oleh Forkopimda dan Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, tetapi juga diikuti oleh ratusan pelajar SD se-Kabupaten Banyuwangi.

Festival Memengan, yang dikenal sebagai ajang permainan tradisional, telah menjadi agenda tahunan di Kabupaten Banyuwangi. Ribuan anak didik setingkat sekolah dasar terlibat dalam acara ini. Enam belas talenta dari SMPN 2 Rogojampi, di bawah koordinasi HM. Syaifudin Zuhri, turut tampil memeriahkan festival yang digelar di Lapangan Lugjag.

Kepala SMPN 2 Rogojampi, Marhenyantoro, SPd, SH, MM, mengungkapkan apresiasi yang tinggi terhadap siswanya. “Kami sangat berterima kasih kepada seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam festival memengan ini. Kegiatan ini perlu dilestarikan karena musik hadrah mengandung filosofi dan menjadi alat dakwah yang bermanfaat bagi anak-anak untuk mengurangi ketergantungan pada gadget serta melestarikan permainan tradisional,” tuturnya.

Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli diperingati dengan cara yang seru di Banyuwangi. Ribuan anak bermain bersama di Taman Blambangan dalam tajuk Festival Memengan Tradisional. Mereka menikmati berbagai permainan tradisional seperti enggrang bambu, enggrang batok, balap karung, congklak, dan gobak sodor.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang membuka acara tersebut, menekankan pentingnya melestarikan permainan tradisional. “Selain sebagai khazanah kebudayaan, permainan ini juga menjadi medium edukasi yang efektif untuk melatih kebersamaan dan kebahagiaan. Esensi pendidikan adalah mewujudkan kebahagiaan, oleh karena itu, anak-anak perlu diajak bermain dan diajarkan filosofi di balik permainan tersebut seperti kebersamaan dan gotong royong,” ujarnya.

Bupati Ipuk juga berharap pengenalan permainan tradisional kepada anak-anak dapat menjadi alternatif dari permainan modern berbasis gadget yang memiliki banyak dampak negatif.

“Permainan tradisional membuat anak lebih sehat dan melatih saraf motoriknya. Selain itu, mereka juga belajar kompak dan disiplin untuk menang,” tambahnya setelah mencoba permainan bakiak dan bola bekel bersama anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *