Actanews.id – Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi menjadi saksi kemeriahan Grand Final Story Telling Competition tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Banyuwangi pada Senin, (30/12). Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, DR. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M. Lomba yang digelar dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama RI ini merupakan bagian dari program Gemar Berbahasa Asing (GEMAR) yang diinisiasi oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) MI Banyuwangi.
Tahun ini, lomba mengusung tema “The History of Banyuwangi” dan kampanye anti-bullying. Tema ini bertujuan untuk menanamkan nilai sejarah lokal serta membangun kesadaran siswa dalam menciptakan lingkungan madrasah yang aman dan nyaman.

Ketua panitia, Nur Khofifah, S.Pd.I., M.Pd, melaporkan bahwa sebanyak 84 peserta dari berbagai madrasah telah mengirimkan video story telling bertema sejarah Banyuwangi dan pesan anti-bullying dalam babak pertama. Setelah seleksi ketat, 40 peserta terpilih untuk melaju ke babak grand final. “Lomba ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sebagai media pembelajaran untuk memperkuat karakter dan kebanggaan siswa terhadap sejarah lokal serta menanamkan empati terhadap sesama,” ujar Khofifah.
Dalam sambutannya, Chaironi Hidayat mengungkapkan rasa bangga atas pelaksanaan lomba ini, yang dinilai sebagai langkah bersejarah bagi Kemenag Banyuwangi. “Ini adalah kompetisi story telling pertama di tingkat MI yang membawa pesan ganda, yaitu memperkenalkan sejarah Banyuwangi sekaligus mengampanyekan anti-bullying di kalangan siswa. Finalis hari ini bukan hanya juara dalam bercerita, tetapi juga duta perdamaian dan pelestari sejarah,” ungkapnya penuh harapan.
Acara pembukaan berlangsung dengan penuh antusias, diwarnai dengan dukungan dari lembaga bimbingan Bahasa Inggris, Inochi, yang memberikan door prize senilai lima juta rupiah kepada para pemenang sebagai bentuk apresiasi dan motivasi untuk terus berkembang dalam keterampilan berbahasa asing.
Dengan tema yang sarat makna ini, Kemenag Banyuwangi berharap Story Telling Competition dapat menjadi ajang tidak hanya untuk unjuk bakat, tetapi juga mendorong siswa untuk mencintai sejarah daerahnya dan aktif menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan.
