Empu Basuki Pimpin Peletakan Batu Pertama Besalen Parikesit di Trenggalek

TRENGGALEK, Actanews.id – Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Empu Basuki Teguh Yuwono, menghadiri sekaligus memimpin prosesi peletakan batu pertama pembangunan Besalen Parikesit di Desa Ngrayung, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Senin (16/2/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian warisan budaya keris Nusantara. Prosesi peletakan batu pertama dilakukan bersama Direktur LSP 3 Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, serta jajaran pengurus Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI), di antaranya Mpu Harjo Herlambang, Heru Yuwono, dan Ilham Triadi.

Acara tersebut turut disaksikan oleh pemangku Pemerintah Desa Ngrayung serta ratusan peserta yang hadir. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan doa dan mantra sapu jagat sebagai bentuk permohonan keselamatan, kelancaran pembangunan, serta keharmonisan semesta.

Besalen Parikesit yang dibangun di Trenggalek direncanakan menjadi pusat aktivitas kebudayaan Paguyuban Pelestari Budaya Keris Parikesit dan komunitas perkerisan lainnya. Keberadaan besalen ini diproyeksikan tidak hanya sebagai tempat produksi dan perawatan keris, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, riset, dan penguatan nilai-nilai budaya.

Keris diposisikan bukan sekadar artefak sejarah, melainkan simbol identitas jati diri bangsa, modal sosial kemasyarakatan, serta kekuatan soft power diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Kegiatan ini juga dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Tony Widianto, beserta jajaran, sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan pendidikan, riset, dan pelestarian budaya daerah.

Dalam sambutannya, Empu Basuki menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Ia menyampaikan bahwa pada masa pemerintahan Prabowo Subianto, pembentukan Kementerian Kebudayaan menjadi bukti bahwa negara menempatkan kebudayaan sebagai salah satu pilar utama pembangunan.
“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber inspirasi untuk memperkuat identitas bangsa, mendorong ekonomi kreatif dan pariwisata budaya, serta menjadi alat diplomasi global yang efektif,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti keris sebagai warisan budaya Nusantara yang telah memperoleh pengakuan dunia. UNESCO telah menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda karena dinilai mencerminkan keunggulan artistik, teknologi tradisional, serta nilai filosofis yang tinggi.
“Keris adalah sebuah masterpiece. Tanpa bantuan teknologi modern, keris dibuat dengan teknik tinggi dan material berkualitas, serta menyimpan nilai-nilai filosofis yang mendalam. Inilah yang membuat dunia internasional, termasuk masyarakat Eropa, sangat mengagumi dan menghormatinya,” jelasnya.

Menurut Empu Basuki, filosofi keris mengajarkan keterhubungan manusia dengan alam, spiritualitas, serta tanggung jawab sosial. Memahami keris berarti memahami jati diri bangsa Indonesia yang majemuk, namun tetap bersatu dalam nilai kebersamaan dan kemanusiaan. (Ilham)