Dinas Damkarmat Banyuwangi Intensifkan Inspeksi dan Edukasi Kebakaran, Berharap Partisipasi Aktif Masyaraka

BANYUWANGI, Actanews.id – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Banyuwangi terus mendorong upaya pencegahan kebakaran melalui inspeksi rutin di berbagai lembaga pemerintah, swasta, hingga perusahaan besar. Kepala Damkarmat Banyuwangi, Yoppy Bayu, pada Selasa (9/9/2025) menegaskan bahwa keterbatasan personel membuat pihaknya sangat membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dan dunia usaha.

“Langkah yang kami lakukan adalah inspeksi di puluhan lokasi-lokasi rawan, mulai dari SPBU, perusahaan besar, hingga tempat usaha dengan risiko tinggi. Dari hasil uji petik, sekitar 30 persen titik masih belum memenuhi standar proteksi kebakaran secara optimal,” ujar Yopi.

Ia menjelaskan, sebagian besar perusahaan sebenarnya sudah memiliki standar K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), namun masih ada kekurangan dalam hal jumlah dan kualitas alat proteksi kebakaran. Misalnya, di beberapa SPBU ditemukan jumlah apar (alat pemadam api ringan) belum sesuai ketententuan jumlah.

“Jika standar harusnya ada 10 apar kecil dan 5 apar besar, di lapangan kami masih temukan hanya 7. Kami sudah memberikan teguran lisan maupun tertulis, dan setelah inspeksi ulang sebagian sudah melakukan perbaikan,” tambahnya.

Damkarmat Banyuwangi saat ini hanya memiliki tenaga terbatas untuk inspeksi teknis. Oleh karena itu, edukasi ke masyarakat maupun lembaga pendidikan dilakukan secara bertahap.

“Biasanya edukasi di sekolah-sekolah kami lakukan di akhir semester, karena memang banyak undangan masuk saat itu. Kalau dijadwalkan rutin setiap hari, tenaga kami tidak mencukupi,” kata Yoppy.

Selain perusahaan, beberapa lembaga besar seperti pasar induk hingga terminal juga mulai melibatkan Damkar dalam perencanaan proteksi kebakaran sejak tahap pembangunan. Hal ini menurut Yoppy menjadi langkah positif karena sistem proteksi dapat dipasang sejak awal, mulai dari pompa air, sensor panas, hingga jaringan sprinkler.

Namun, kendala di lapangan masih sering ditemui. Banyak peralatan proteksi yang rusak, hilang, atau tidak dirawat. “Misalanya di gedung tpasar terminal terpadu Sobo. Ada selang hilang, seperri nozzle sprinkler rusak, hingga selang yang hilang. Padahal semua itu sangat vital jika terjadi kebakaran. Karena itu, pengelola gedung harus aktif merawat peralatan,” tegasnya.

Selain pencegahan di lembaga dan perusahaan, Yoppy juga mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menghadapi perubahan musim. Saat musim hujan, kebersihan saluran air menjadi kunci agar tidak terjadi banjir.

“Kalau depan rumah ada saluran penuh sampah, jangan menunggu pemerintah. Bersihkan bersama-sama agar tidak menyumbat aliran besar,” pesannya.

Sementara pada musim kemarau, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. Sejumlah kasus kebakaran lahan dan tumpukan sampah pernah terjadi hingga sulit dipadamkan.

“Baru-baru ini kami menangani kebakaran tumpukan sampah di wilayah Wonosobo. Api baru padam setelah hampir 20 jam dengan bantuan alat berat. Itu contoh kecil bahwa pembakaran sembarangan bisa berakibat fatal,” pungkas Yoppy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *