Bidan di Pelosok Banyuwangi, Mengabdi di Tengah Keterbatasan

Actanews.id – Menjadi bidan di daerah terpencil memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait yang sulit. Infrastruktur terbatas, kekurangan personel, dan berbagai kendala lainnya merupakan hal yang harus dihadapi setiap hari. Namun, bagi para bidan ini, keterbatasan bukanlah alasan untuk mengeluh, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan penuh dedikasi.

Salah satu contoh nyata adalah para bidan di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Di desa terpencil ini, mereka menjalankan tugas dengan semangat tinggi, melayani warga yang sebagian besar tinggal di kawasan hutan.

Bidan Misiyati, salah satu bidan yang bertugas di Rumah Bersalin Sarongan, menceritakan bahwa ia bersama timnya rutin melakukan pemeriksaan keliling. Mereka memeriksa ibu hamil, memantau status gizi balita, melakukan pemeriksaan kesehatan lansia, dan mempromosikan kesehatan di masyarakat. “Saya dan tim rutin melakukan pemeriksaan keliling ke masyarakat. Kami mengecek ibu hamil, mengukur status gizi balita, pos lansia, pemeriksaan golongan darah, kesehatan lingkungan, dan promosi kesehatan langsung pada hari itu juga,” ujar Misiyati, Rabu (17/7/2024).

Keberadaan Rumah Bersalin yang diresmikan pada 2022 oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sangat membantu mempermudah akses layanan kesehatan bagi warga. Rumah bersalin ini memangkas jarak tempuh yang sangat jauh dibandingkan harus menuju Puskesmas Sumberagung yang berjarak 20 kilometer dari Sarongan.

“Rumah bersalin ini sangat bermanfaat bagi petugas maupun warga. Warga menjadi lebih dekat, dan bagi petugas, semua layanan persalinan terpusat di satu tempat,” ungkap Misiyati. Rumah bersalin ini juga mendapat dukungan dari pemerintah Jepang, menambah lengkap fasilitas yang tersedia.

Misiyati dan lima bidan lainnya tak hanya melayani di Rumah Bersalin, tetapi juga harus sering turun ke lapangan. Setiap pekan, mereka keliling desa, memberikan layanan kesehatan kepada warga. Misiyati menceritakan pengalaman mengesankan saat membantu persalinan seorang ibu yang melahirkan di depan Rumah Bersalin, yang sempat viral beberapa waktu lalu.

“Kami sudah dua kali melakukan visitasi ke rumahnya untuk konseling dan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi ibu dan bayi dalam keadaan baik sebelum persalinan,” jelasnya. Meski kelahiran terjadi lebih cepat dari perkiraan, beruntung ibu dan bayinya selamat.

Untuk menunjang pelayanan kesehatan, Pemkab Banyuwangi telah menyediakan ambulans Triton dan motor KLX sebagai kendaraan operasional bagi para petugas. Mustotafidatuz Zuro’ (29), atau akrab disapa Fida, yang juga bidan di Rumah Bersalin, menyampaikan bahwa mereka bekerja dalam dua shift, sore dan malam. “Kami dibagi dua shift, mulai pukul 14.00 hingga 20.00 WIB, dan pukul 20.00 hingga 07.00 WIB,” jelasnya.

Meski tugas mereka berat dan waktu bekerja panjang, dedikasi para bidan ini tak pernah surut. Mereka terus berkomitmen memberikan layanan terbaik bagi masyarakat, meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan di daerah terpencil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *