BANYUWANGI, Actanews.id – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menunjukkan contoh kepemimpinan yang inspiratif dengan ikut terjun langsung ke sawah membajak lahan di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Pakis, Jumat (7/11/2025).
Aksi ini bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk nyata semangat gotong royong sekaligus motivasi bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk berpartisipasi aktif dalam program pembinaan berbasis ketahanan pangan.
Dengan mengenakan pakaian lapangan, Kalapas Wayan tampak menyingsingkan lengan bajunya dan mengoperasikan traktor tangan di tengah lumpur. Ia memimpin langsung kegiatan pembajakan lahan yang akan ditanami berbagai komoditas pertanian unggulan.
“Kami ingin memberikan contoh langsung kepada Warga Binaan bahwa kerja keras dan semangat belajar bisa menjadi bekal berharga setelah bebas nanti. Pembinaan bukan hanya teori, tapi praktik nyata di lapangan,” ujar Wayan.
Kalapas menegaskan, kegiatan ini merupakan langkah awal dalam pengelolaan lahan pertanian SAE Pakis seluas 2 hektare yang akan ditanami padi, jagung, dan semangka. Program ini juga menjadi bagian dari upaya Lapas Banyuwangi mendukung ketahanan pangan nasional, sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 13 Program Akselerasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Menurut Wayan, melalui kegiatan asimilasi pertanian, para WBP tidak hanya dibina untuk disiplin dan bekerja keras, tetapi juga dibekali keterampilan pertanian produktif yang dapat menjadi modal hidup mandiri setelah kembali ke masyarakat.
“Kami terus berkomitmen untuk mendukung program ketahanan pangan sekaligus memberdayakan Warga Binaan. Inilah wujud nyata pembinaan agar mereka siap berkontribusi positif bagi masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para WBP yang terlibat. Mereka mengaku termotivasi melihat pimpinan mereka tak segan turun ke lumpur dan bekerja bersama di sawah.

Dengan teladan yang ditunjukkan Kalapas Banyuwangi, semangat kebersamaan dan kerja produktif di lingkungan pemasyarakatan semakin tumbuh, membuktikan bahwa pembinaan bukan sekadar rutinitas, melainkan langkah konkret menuju kemandirian dan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan bangsa.
