BANYUWANGI, Actanews.id – Penumpukan sampah di sejumlah titik pasar di Banyuwangi, termasuk Pasar Tradisional Rogojampi, kembali memicu keluhan warga. Kali ini, sampah tak diangkut selama beberapa hari sejak akhir Juli, menimbulkan bau menyengat dan kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit. Pengangkutan sampah baru dilakukan kembali pada Sabtu pagi (2/8/2025).

Kondisi ini akibat terganggunya operasional TPA Concrong, Desa/Kecamatan Rogojampi, yang mengalami keterlambatan pasokan tanah urug akibat penutupan tambang sejak beberapa hari sebelumnya, serta event sepeda balap TdBI juga turut mempengaruhi mobilitas truk material dan pengangkut sampah.
“Memang sempat terkendala karena suplai tanah urug. Namun saat ini sudah berjalan normal kembali,” ujar Amrullah, Kepala UPT Persampahan DLH Banyuwangi.
Meski demikian, Ketua Komunitas Pemerhati Banyuwangi (KPB), Agung Surya Wirawan, menilai penumpukan ini mencerminkan masalah lama yang terus diabaikan Pemkab.
“Sudah hampir dua dekade persoalan ini berulang. Banyuwangi belum memiliki TPA tetap definitif dan pengelolaan sampah masih bermasalah,” ujarnya.

Agung juga menyebut TPS 3R Balak tidak cukup menjadi solusi karena kapasitasnya terbatas. Dan hanya bersifat mengurangi volume sampah. KPB juga telah lama mengajukan hearing ke DPRD Banyuwangi, namun belum mendapat respons positif hingga kini.
“Ironisnya, anggaran untuk festival selalu ada. Tapi kebersihan lingkungan tak pernah jadi prioritas,” tegasnya.
Padahal, Pemkab memiliki perangkat hukum jelas seperti Perda No. 6 Tahun 2022 dan Perbup No. 19 Tahun 2023. Namun lemahnya implementasi dan minimnya sinergi antarinstansi membuat regulasi itu mandek.
“Sampah bukan sekadar masalah teknis. Ini soal hak dasar warga, martabat, dan kualitas hidup,” tutup Agung.
