Actanews.id – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan komitmennya dalam membangun layanan inklusif, salah satunya dengan meningkatkan akses air minum bagi penyandang disabilitas. Berkolaborasi dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi, program pemasangan sambungan rumah (SR) gratis dan keringanan tarif khusus diberikan kepada keluarga penyandang disabilitas kurang mampu.
“Kami terus mendorong pembangunan inklusif, termasuk dalam hal akses layanan air bersih dan sanitasi, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional yang digelar di Balai Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, Selasa (17/12).
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai organisasi penyandang disabilitas, seperti Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), dan Aura Lentera.
Direktur Utama PUDAM Banyuwangi, Abdurahman, menjelaskan bahwa keringanan tarif diberikan dengan menggolongkan pelanggan penyandang disabilitas ke dalam kategori Rumah Tangga 1 (R1). Sementara pemasangan SR gratis akan ditentukan berdasarkan hasil survei lapangan.
“Syaratnya antara lain rumah memiliki daya listrik maksimal 1.300 watt, bangunan rumah berupa tempat tinggal, baik semi permanen maupun permanen dengan kualitas bangunan standar,” terang Abdurahman.
Selain itu, Banyuwangi juga menjalankan program hibah kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESIT) melalui kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur (KIAT). Program ini memberikan pelatihan bagi perempuan dan penyandang disabilitas dalam pengelolaan air bersih, seperti pemantauan kualitas air, mitigasi penyelamatan mata air, dan keterampilan lainnya.
Ketua Tim PPDI Banyuwangi, Umar Asmoro, mengungkapkan bahwa program GESIT yang berjalan selama hampir satu tahun telah melatih ratusan perempuan dan penyandang disabilitas. Tujuannya agar mereka bisa terlibat aktif dalam pengelolaan air bersih.
“Kami juga mendorong kebijakan yang mendukung keterlibatan perempuan dan penyandang disabilitas dalam pengelolaan air bersih di level pemerintah. Ke depan, program ini akan dilengkapi dengan sertifikasi pelatihan agar peserta dapat bekerja di sektor formal,” jelas Umar.
Desa Benelan Lor menjadi salah satu desa percontohan dalam pengelolaan air bersih inklusif. Di desa ini, pengelolaan air dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai unit baru untuk memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
“Air adalah aset desa yang harus dikelola secara mandiri agar hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat desa,” pungkas Umar.
