Bangun Generasi Pewaris Budaya, Yayasan Pati Nambi Gandeng Kampus, Sekolah, dan Pesantren di Lumajang

Lumajang, Actanews.id – Babak baru pelestarian budaya perkerisan Nusantara di Kabupaten Lumajang resmi dimulai. Yayasan Pati Nambi menjalin kerja sama strategis lintas institusi sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya keris berbasis pendidikan, riset, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), penanda tanganan MOU disaksikan dan diresmikan oleh Basuki Teguh Yuwono selaku Stafsus Menteri Kebudayaan RI bidang Sejarah dan Warisan Budaya,  yang dilakukan antara Yayasan Pati Nambi dengan Universitas Lumajang (UNILU), LSP Perkerisan Indonesia, SMA Negeri 3 Lumajang, serta sejumlah pondok pesantren. Acara berlangsung di Sekretariat Yayasan Pati Nambi, Sabtu (10/1/2026).

Ketua Yayasan Pati Nambi, Adin Malik, menyebut kolaborasi ini sebagai hasil dari proses panjang membangun ekosistem sinergis antara komunitas budaya, dunia pendidikan, dan lembaga sertifikasi.
“Tujuan kami sederhana tapi strategis, yakni membawa perkerisan lebih dekat dengan generasi muda, baik melalui sekolah, pesantren, maupun perguruan tinggi, agar nilai-nilai budaya ini tidak terputus oleh zaman,” ujarnya.

Rektor Universitas Lumajang, Dr. Sudjatmiko, S.H., M.H., menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi merupakan wujud komitmen akademik dalam menjaga dan mengembangkan kearifan lokal.
“Perkerisan bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai historis dan akademik yang sangat kaya. UNILU siap berkontribusi melalui kajian ilmiah, riset, dan pengembangan pendidikan berbasis budaya,” katanya.

Sementara itu, Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, S.Ak., menekankan pentingnya standardisasi keahlian dalam pelestarian budaya.
“Keahlian di bidang perkerisan perlu diakui secara profesional. Sertifikasi kompetensi menjadi instrumen penting agar regenerasi pelaku budaya berlangsung berkelanjutan dan memiliki legitimasi,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari praktisi budaya KRT. Ilham Triadinagoro, M.Pd., asesor LSP3 Perkerisan Indonesia sekaligus kurator keris. Ia menilai keterlibatan institusi pendidikan sebagai langkah krusial dalam menjaga kesinambungan pengetahuan perkerisan.
“Dengan masuknya dunia pendidikan, transfer pengetahuan perkerisan dapat berlangsung lebih sistematis, terstruktur, dan terdokumentasi dengan baik,” ungkapnya.

Akademisi Dr. Andi Budi Sulistijanto, M.Kom., yang berperan sebagai penghubung antara Yayasan Pati Nambi, UNILU, dan sejumlah pondok pesantren di Lumajang, menilai kolaborasi lintas sektor ini sebagai kunci keberhasilan pelestarian budaya di tingkat daerah.

Adapun ruang lingkup kerja sama meliputi pengembangan program edukasi budaya, sertifikasi kompetensi perkerisan, kegiatan riset, serta regenerasi pelaku budaya dari kalangan pelajar, santri, dan mahasiswa. Para pihak berharap inisiatif ini dapat menjadi model pengembangan budaya berbasis pendidikan yang dapat direplikasi di daerah lain. (Ilham)