Di Balik Tawa “Mbak Miti”:, Pedagang Keliling yang Gigih Menjemput Mimpi

Nama “Mbak Miti” sudah akrab di telinga warga Kecamatan Banyuwangi, Giri, hingga Glagah, Banyuwangi. Sosoknya dikenal lewat gaya jenaka saat menjajakan jajanan keliling. Namun di balik keceriaannya, tersimpan kisah perjuangan hidup yang penuh kerja keras.

Mbak Miti, yang bernama asli Sakur (38), berasal dari Dusun Cungkingan, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara, lahir dari keluarga sederhana dengan orang tua yang bekerja sebagai buruh pengikat sayur.

Sakur mengaku hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar dan tidak sampai lulus. Rasa takut terhadap suntikan vaksin membuatnya enggan melanjutkan sekolah. Dampaknya, hingga kini ia tidak bisa membaca dan menulis. Meski demikian, ia tetap percaya diri menjalani hidup. “Saya buta huruf, tapi kalau soal uang saya paham,” ujarnya sambil tertawa.

Sejak kecil, hidup Sakur sudah diisi dengan kerja keras. Ia pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga, bahkan sempat merantau ke Surabaya untuk pekerjaan serupa. Di sana, ia belajar berbagai keterampilan rumah tangga, mulai dari memasak hingga mengasuh anak.

Setelah kembali ke Banyuwangi, Sakur memulai usaha kecil dengan berjualan gorengan dan kue basah di sekitar perempatan Cungking, Kelurahan Mojopanggung. Setiap hari, ia berjualan dari pagi hingga sore, menawarkan berbagai jajanan tradisional kepada pelanggan setianya.

Dalam sehari, ia membawa sekitar 500 kue. Jika dagangannya habis, Sakur bisa meraih keuntungan hingga Rp300 ribu. Dari hasil itu, ia tak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menabung dalam bentuk emas sebagai investasi.

Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Ia berhasil memiliki perhiasan emas, melunasi cicilan sepeda motor, serta membantu kebutuhan orang tuanya. Kini, Sakur memiliki impian besar: membeli rumah sendiri dan mengajak kedua orang tuanya tinggal bersama.