Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Kunjungi Lokasi Penemuan Arca di Trenggalek

Trenggalek, Actanews.id — Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Sejarah dan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono, melakukan kunjungan langsung ke sejumlah lokasi penemuan benda purbakala dan arca di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Senin (16/2). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas ditemukannya Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang diperkirakan berasal dari masa Mataram Kuno, sekitar abad ketujuh Masehi.

Penemuan sejumlah objek bersejarah di beberapa titik wilayah Kabupaten Trenggalek menarik perhatian pemerintah pusat. Melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pemerintah mengirimkan staf khusus untuk meninjau langsung lokasi ditemukannya ODCB tersebut sekaligus memastikan langkah perlindungan dan pelestarian dapat segera dilakukan.

Situs Watudakon, Jejak Megalitikum di Gandusari

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Situs Watudakon yang berada di area persawahan Desa Ngrayung, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Situs ini ditemukan warga setempat dan berupa watu lumbung serta batu bulat berlubang-lubang yang sekilas menyerupai permainan tradisional dakon, sehingga dinamakan Watudakon.

Benda purbakala peninggalan masa Megalitikum ini diperkirakan merupakan pranotomongso, yakni sistem penanggalan tradisional untuk menghitung kalender tanam masyarakat agraris pada masa lampau. Temuan ini memperkaya khazanah sejarah Trenggalek sebagai wilayah yang memiliki jejak peradaban kuno.

Reruntuhan Candi dan 15 Arca di Desa Gondang

Lokasi kedua berada di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Di pekarangan rumah warga bernama Saifuddin ditemukan struktur bata yang diduga merupakan reruntuhan candi peninggalan masa Mataram Kuno, sekitar abad ketujuh Masehi.

Di lokasi ini ditemukan 15 arca, antara lain arca Manakala, Agastya, Nandi, serta relief apsari yang terbuat dari batu putih dan terakota. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari kompleks bangunan suci pada masa kerajaan Hindu kuno di Jawa.

Kegiatan peninjauan juga dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Tony Widianyo, beserta jajaran, serta pemangku pemerintahan Desa Gondang dan Kecamatan Tugu. Kehadiran berbagai pihak ini menjadi wujud kolaborasi dalam bidang pendidikan, riset, dan pelestarian budaya.

Kebudayaan sebagai Pilar Pembangunan Nasional

Dalam sambutannya, Basuki Teguh Yuwono menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Ia menyampaikan bahwa pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembentukan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menjadi bukti nyata bahwa negara menempatkan kebudayaan sebagai salah satu pilar utama pembangunan.

Menurutnya, kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai artefak sejarah, melainkan juga sebagai identitas jati diri bangsa, modal sosial kemasyarakatan, serta kekuatan soft power dalam diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber inspirasi untuk memperkuat identitas bangsa, mendorong ekonomi kreatif, pariwisata budaya, serta menjadi alat diplomasi global yang efektif,” ujarnya di hadapan para pegiat budaya yang hadir.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal percepatan proses kajian arkeologis serta penetapan resmi status cagar budaya terhadap temuan-temuan tersebut, sehingga warisan sejarah Trenggalek dapat terjaga dan dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan serta kesejahteraan masyarakat.(Ilham)