Trenggalek, Actanews.id – LSP 3 (Lembaga Sertifikasi Profes) Perkerisan Indonesia mennggelar Uji kompetensi dengan dengan tiga skema sertifikasi, yakni panjak, edukator keris, dan pangrukti (perawat keris). Kegiatan ini menjadi bagian dari Fasilitasi Sertifikasi Kompetensi Profesi Tenaga Kebudayaan Bidang Perkerisan yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Trenggalek, Senin–Selasa (16–17/2/2026).
Acara tersebut menghadirkan Empu Basuki Teguh Yuwono, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Sejarah dan Perlindungan Budaya, yang secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kehadiran Kementerian Kebudayaan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan bukti keseriusan negara dalam menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan nasional.
“Pembentukan Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa negara menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan strategis.
Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber inspirasi untuk memperkuat identitas budaya, mendorong ekonomi kreatif, pariwisata budaya, dan menjadi alat diplomasi global yang efektif,” ujarnya di hadapan para peserta.
Keris, Warisan Nusantara Berkelas Dunia
Lebih lanjut, Basuki mengangkat keris sebagai contoh konkret warisan budaya Nusantara yang telah mendapat pengakuan internasional. Ia mengingatkan bahwa UNESCO telah menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, yang mencerminkan keunggulan artistik sekaligus kedalaman filosofi masyarakat Indonesia.
“Keris adalah masterpiece pada zamannya. Tanpa bantuan teknologi modern, keris dibuat dengan teknik tinggi dan material berkualitas, serta mengandung nilai-nilai filosofis yang mendalam. Inilah yang membuat masyarakat dunia, termasuk Eropa, mengagumi dan menghormati keris,” jelasnya.
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi antara LSP 3 Perkerisan Indonesia dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Sebanyak 25 peserta yang terdiri atas seniman dan pengrajin keris, serta perwakilan Disparbud Kabupaten Trenggalek, mengikuti uji kompetensi pada tiga bidang okupasi: edukator keris, panjak, dan pangrukti.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pembekalan materi serta praktik langsung. Ujian juga mencakup sesi wawancara individu untuk menggali pengalaman dan kompetensi mereka sebagai pelaku seni dan pengrajin keris.
Tim penguji dari LSP 3 Perkerisan Indonesia dipimpin oleh Direktur Agung Guntoro Wisnu, didampingi empat asesor kompetensi. Dalam sambutannya, Agung menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Trenggalek serta menegaskan pentingnya standarisasi profesi di bidang perkerisan.
“Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mengakui dan meningkatkan profesionalitas di bidang perkerisan, sekaligus memastikan adanya standar kompetensi yang jelas bagi edukator keris, panjak, dan pangrukti,” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Tony Widianto, menyampaikan apresiasi kepada LSP 3 Perkerisan, tim asesor, serta seluruh peserta. Ia berharap kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia di sektor kebudayaan dan pariwisata, khususnya perkerisan. (Ilham)
